Memori

mtf_ykjgo_459.jpg.jpg
(Kampung Code, 2015)

Menuliskan sebuah kisah hidup itu menyenangkan. Ada banyak cerita yang patut dituliskan, saya mengira itu semua merupakan sebuah kisah yang akan menjadi memori yang menyenangkan bagi saya.

Tulisan ini dibuat dalam kondisi mendung dan matahari pun tak tampak diluar, antara memang akan hujan deras atau malah kondisi cuaca yang mendung. Dari jendela kamar, saya melihat dua ekor burung sedang bermain di dahan pohon ketapang yang tumbuh di halaman tanah kosong sebelah kamar kosan saya. Nampaknya memang dahan-dahan dari pohon ini menjadi salah satu tempat kesukaan burung-burung kecil ini. Di waktu tertentu saya selalu bisa melihat mereka bermain di sana. Angin dan cuaca saat ini memang sangat menyenangkan, saya mungkin akan memilih tidur jika diperbolehkan. Tapi, akhirnya saya menulis karena saya harus menyampaikan permohonan maaf pada mereka yang telah menjadi bagian dari hidup saya.

Saya yakin setiap manusia mempunyai sesuatu yang ingin diperjuangkan, maka mereka mengalami yang namanya berproses. Ada beberapa orang dari masa ini yang datang dan masuk ke hidup saya yang mulai tenggelam dalam kegelapan, dan mereka sanggup menarik saya keluar kembali ke tempat yang bercahaya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama air mata saya jatuh tengah malam tadi untuk keadaan bahagia. Ah iya, saya masih ingat betul kejadian dimana saya mulai tenggelam di dalam kegelapan. Berproses adalah cara manusia untuk tetap mempertahankan hidupnya. Saya akhirnya menyaksikan dan merasakan sendiri bagaimana cara orang mulai menghadapi hidup mereka.

Ada seorang teman yang bijak menuliskan “Kamu butuh pacar kalo gak punya banyak temen, begitu pula sebaliknya: kamu butuh temen-temen kalo kamu gak punya pacar”. Akan selalu menyenangkan jika membicarakan tentang teman. Apalagi, mereka yang telah bersama dengan kita selama bertahun-tahun. Karena bagi saya, mengasihi seorang teman itu tak butuh waktu lama tapi untuk mencintai bahkan menjadi akrab dengan mereka butuh waktu yang tak sedikit.

*Pulang – Float*

Namun, dengan ditemani oleh lagu-lagu dari Float saya sedikit merasa nyaman sekali pun saya sedang sendiri. Hari makin siang, tanpa sadar waktu tengah menunjukkan pukul 11.47 dari jam tangan yang melingkar erat di tangan kiri saya. Saya rasa dengan cuaca yang menggoda saya untuk kembali ke peraduan harus dilawan dengan berjalan-jalan. Segera saya mengambil tas kecil saya yang hanya berisikan buku berjudul Pohon-pohon Sesawi sebuah novel karya Romo Mangun Wijaya yang saya pinjam dari seoramg teman,  dompet, dan juga ponsel pintar beserta alat pengisi daya. Juga didalam tas saya mengisi sebotol penuh air mineral dengan ukuran 600 ml untuk berjaga-jaga kalau saja di tengah jalan saya mengalami dehidrasi. Saya juga membawa payung pelangi saya yang dapat diandalkan dimana pun dan kapanpun meski terkadang saya rasa sudah seharusnya payung saya dipensiunkan saja. Segera saya menggunakan pakaian casual saya yaitu jeans dan kaos dengan jaket yang terikat sempurna melingkari pinggang saya. Sepatu dan juga topi kesayangan saya tidak saya tinggalkan. Kali ini perjalanan saya menggunakan transportasi umum.

Saya suka naik transportasi umum, entah mengapa rasanya memang lebih rileks dengan menggunakan transportasi umum meski harus menunggu armada bus yang lama atau malah berdesakan dengan penumpang lain di dalam armada maupun di shelter. Alasannya sederhana saya naik transportasi umum dikarenakan saya suka melihat keadaan kota yang seakan selalu bergerak. Melihat jalanan yang mulai padat dipenuhi dengan kendaraan. Yang tak luput dari pandangan saya adalah angka maupun arah dari semua traffic sign jalanan yang sering saya lewati. Atau bahkan menghitung jumlah shelter maupun melihat sekeliling kota yang terkadang menunjukan sesuatu yang baru. Saya jauh lebih menikmati perjalanan menggunakan metode ini daripada harus menyusuri sepanjang jalan Malioboro. Biasanya dikala sedang berkeliling saya akan menuliskan setiap sudut yang berbeda di Jogja, ini membantu saya mengingat segala sesuatu atau bahkan saya tak peduli dan terpaku dengan bacaan saya di kursi penumpang yang saya tempati. Kali ini saya memilih untuk tetap menatap tulisan yang berada di buku kecil Romo Mangun Wijaya. Maka, saya melewatkan sebuah shelter. Ah, saya harus turun di shelter berikutnya agar perjalanan pulang nanti saya tidak terlalu malam.

Dengan melakukan aktifitas ini saya jauh lebih mengenal apa yang ingin saya lakukan, begitu juga dengan segala sesuatu yang saya lakukan. Saya rasa penyesalan hanya akan datang ketika orang-orang yang melakukan proses itu dengan sangat terpaksa atau tak menikmati setiap suasana hati bahkan caranya menjalani hidupnya. Saya telah berproses, dan saya memohon maaf atas segala tindak tanduk yang saya lakukan menyakiti atau membuat anda kecewa.

Mari berproses bersama lagi.

Membicarakan Perilaku Manusia I (Seksualitas)

Beberapa hari ini saya terlibat obrolan serius mengenai Seks dan Cinta. Kontras sekali dengan saya yang bahkan tidak punya pengalaman sama sekali, dengan cinta saja saya masih bertanya – bertanya apalagi seks yang pada umumnya merupakan sebuah tindakan. Kali ini bahasan pertama adalah seksualitas dulu mungkin di tulisan berikutnya saya akan menuliskan masalah cinta terus berlanjut pada keterikatan mereka berdua.

_________________________________________________________________

Katanya perilaku seksual itu merupakan perilaku hewan. Makanya manusia yang mengalami seks akan berubah menjadi buas seperti binatang, tidak punya pola pikir, yang penting hasratnya tersalurkan. Hanya saja, perbedaan perilaku seksual manusia dan hewan terletak pada kesenangan atau rekreasi yang dalam hal ini dilakukan untuk alasan selain kopulasi atau senggama juga berkembang biak dengan tujuan yang sama yakni menyalurkan hasrat seksualnya. Istilah seksualitas manusia juga meliputi budaya, politis, hukum dan aspek filosofis.  Dalam hal ini sering juga dikaitkan dengan isu moralitas, etika, teologi, spiritualitas atau agama dan pada kalangan masyarakat masalah seksualitas sering dianggap tabu untuk diperbincangkan. Padahal aktivitas seksual manusia merupakan salah satu cara untuk bertahan hidup juga.

Seksualitas manusia adalah bagaimana manusia mendapatkan pengalaman erotis dan mengekspresikan dirinya sebagai makhluk seksual; kesadaran diri pribadi sebagai laki-laki atau perempuan; kapasitas yang mereka miliki atas pengalaman erotis dan tanggapan atas pengalaman itu.[1] Seksualitas manusia dapat dijelaskan bagaimana seseorang tertarik oleh orang lainnya yang berlawanan jenis kelamin (heteroseksualitas), kepada yang sejenis (homoseksualitas), kepada semua jenis (biseksualitas), atau tidak tertarik sama sekali (aseksualitas).[2] (wikipedia, selasa, 14 maret 2017 (16.54 WIB)).

Saya mengikuti beberapa diskusi dengan tema LGBT dan mengenai Kekerasan Seksual Terhadap Kaum Perempuan, saya mendapati bahasan yang menyatakan bahwa sejak awal dilahirkan secara biologi dan psikologi manusia memiliki hasrat seksual yang beragam. Hasrat seksual yang dimiliki manusia pada umumnya dapat berupa ekspresi seksual, orientasi seksual maupun perilaku seksual, seperti yang disebutkan dalam bahasan wikipedia di atas. Untuk tema di atas lebih jelasnya akan saya bahas pada tulisan saya berikutnya, maklum belum selesai saya tuliskan.

Menyambung dengan seks, saya pernah terlibat obrolan serius dengan seorang teman dan awalnya kami membicarakan masalah perasaan. Ini cukup rumit bagi saya, saya selalu mencari celah untuk bertanya kepada setiap orang, baik yang sedang dalam tahap mencari pujaannya atau yang sedang berada dalam hubungan asmara tanpa terkecuali suami isteri juga. Kok bisa mereka cepat suka dan katanya “jatuh cinta” pada seseorang atau pribadi tertentu, kok bisa mereka bertahan menyukai pribadi yang sama selama berjam – jam, berhari – hari, berbulan – bulan, bertahun – tahun atau bertanya tentang bagaimana mereka menemukan sebuah celah yang membuat seseorang itu pantas untuk dicintai oleh kita. Atau untuk pasangan suami isteri bagaimana bisa mereka hidup dengan satu orang yang sama dari bangun pagi sampai malam tidur lagi, bercanda, ngobrol serius sampai punya “impian yang ingin diwujudkan bersama”? Bagi saya ini masih menjadi pertanyaan, bukan kah seseorang lahir ke dunia ini sendiri. Sekalipun mereka kembar identik, pasti keluar dari rahim ibu satu persatu bukan. Bahkan mereka pun punya impian yang tentu berbeda – beda. Apakah dua orang yang dinamakan suami isteri atau yang berpasangan ini akhirnya harus bisa menahan diri dari selfishness mereka? Setidaknya itulah pertanyaan mendasar yang selalu ingin tanyakan kepada mereka. Well, tapi itu merupakan bagian dari bahasan berikutnya masalah perasaan juga hubungan antara keduanya.

Back to our discussion, saya agak suka dengan jawaban teman saya mengenai pola pemahaman wanita dan pria pada umumnya menilai seks. Dia mengatakan bahwa, pria melihat seks adalah tujuan dia berhubungan asmara dengan wanita sedang wanita melihat seks sebagai awal dari semua hubungan asmara yang dia jalani. Jadi menurutnya pria dan wanita ini tidak pernah bertemu karena pola pemahaman tersebut, bahkan sexlife juga kehidupan hubungan asmara mereka bisa berubah drastis setelah mengalami seks. Tapi, obrolan kami hanya pada sebatas sharing pemahaman.

Di satu ketika, saya juga terlibat obrolan dengan beberapa sahabat saya yang lain mengenai sexlife mereka. Tapi, akhirnya berujung pada obrolan sengit saya dan seorang teman yang in relationship with her boyfriend. Saya kaget dengan yang dia ucapkan yakni, “aku dan pacarku, kami saling memberikan keuntungan. Aku dan dia butuh yang namanya seks, teman ngobrol dan teman makan. Hubungan kami hanya sesederhana itu”. Tapi, apakah itu sederhana? Atau mungkin saja dia memahami bahwa mereka menjalin sebuah hubungan dengan terikat pada hal – hal tersebut. Hubungan yang menguntungkan dan mengikat kedua belah pihak dan mereka menikmati hal tersebut. Dan sesekali saya mendengar keluhan mereka mengenai susahnya mendapatkan rangsangan atau pun orgasme yang ditakutkan mereka itu akan menjadi alasan untuk mencari atau mendapatkan sebuah ekspresi bahkan perilaku seksual lain atau bisa saja lebih dari saat ini. Baiklah kali ini mereka ngobrol sendiri dan saya mendengarkan. Pada akhir pembicaraan itu, tetaplah sama saja saya mengambil kesimpulan dari obrolan teman – teman saya tadi yang sama dan terus saya ucapkan berkali – kali juga bahwa perilaku manusia melakukan hubungan seksual dengan tujuan kesenangan merupakan cara untuk menyalurkan hasrat seksualitasnya entah lebih atau kurang mereka tetap akan membutuhkan sekaligus menikmatinya, yakni saling membangkitkan rangsangan dan mencapai titik orgasme.

Menyangkut perilaku seksual yang digunakan untuk membangkitkan rangsangan dan mencapai titik orgasme ini, ada juga beberapa perilaku seksual yang diekspresikan dan dianggap abnormal dari perilaku secara umumnya. Dimana ada sebuah pola pemahaman yang tadi saya sebutkan di atas yakni selain tujuan kopulasi atau senggama, manusia melakukan tindakan seksual untuk menyalurkan hasrat rekreasinya. Pemahaman inilah yang membuktikan bahwa banyak spesies yang sebelumnya telah diyakini mempunyai hubungan monogami menuju pada titik yang berbeda atau mengambil kesempatan dari kebebasan alam. Misalnya berbagai spesies melakukan masturbasi dan menggunakan benda-benda sebagai alat untuk membantu melakukannya, yang mana prokreasi bukan tujuannya melainkan kesenangan.

Membicarakan mengenai seksual yang dilakukan sebagai penyalur kesenangan manusia ini saya mendapatkan artikel menarik dari Liputan6.com mengenai 10 perilaku seksualitas yang dianggap “abnormal” dari perilaku seksual manusia pada umumnya. Jika biasanya pandangan orang perilaku seksual itu terjadi pada saat yang romantis dan lembut pada artikel ini disebutkan beberapa perilaku yang dianggap kasar tapi tetap saja dipergunakan untuk menyalurkan hasrat seksualitasnya. Yakni :

  1. Formicophilia merupakan gairah seksual yang ditimbulkan akibat rangsangan dari serangga. Misalnya, semut yang dibiarkan berjalan di tubuh atau alat kelamin. Dapat pula akibat gigitan dan sengatan serangga di bagian-bagian sensitif tubuh.
  2. Troilism/cuckodilsm yakni kesenangan seksual yang timbul saat melihat salah satu pasangan berselingkuh atau melakukan aktivitas seksual dengan orang lain di depan mata. Meski terdengar aneh, nyatanya banyak orang yang memiliki perilaku seksual seperti ini.
  3. Abasiophilia yaitu gairah seksual yang berasal dari baik melihat atau berinteraksi secara seksual dengan orang yang gerakannya terbatas, seperti orang yang mengenakan gips atau kruk.
  4. Frotteurism merupakan perilaku seksual seseorang yang suka menggesekkan alat kelaminnya di tempat umum. Kelainan ini sering terjadi di dalam kereta yang penuh dan sesak saat pengidap dapat dengan mudah menggesekkan alat kelaminnya dengan orang lain yang tak dikenal.
  5. Symphorophilia yaitu kesenangan seksual yang berasal dari aktivitas menonton bencana yang tengah terjadi, seperti kecelakaan mobil atau kebakaran.
  6. Sacofricosis adalah gairah seksual yang berasal dari pemotongan lubang di saku celana seseorang untuk mastubarsi di depan umum, tanpa ada yang menyadari hal tersebut.
  7. Urophilia merupakan kesenangan seksual saat dirinya dikencingi oleh orang lain. Entah bagaimana, orang yang memiliki perilaku seksual ini gairahnya justru meningkat saat dikencingi atau mengencingi orang lain.
  8. Paraphilic infantilisme merupakan gairah seksual saat berdandan seperti bayi atau diperlakukan seperti bayi. Dengan kata lain, pelakunya sangat menikmati perilaku dimanja oleh pasangannya sendiri.
  9. Bug yakni gairah seksual yang berasal dari fantasi berhubungan seksual dengan seseorang yang HIV-positif. Belum ada yang bisa menjelaskan mengapa beberapa individu bisa mengalami kondisi ini.
  10. Vorarephilia ini merupakan perilaku yang mengerikan, namun nyatanya banyak orang yang mungkin pernah berfantasi seperti vorarephilia. Istilah ini merujuk dari gairah seksual yang timbul dengan pemikiran memakan atau dimakan oleh seseorang yang disayang. Perbedaannya dengan kanibal mungkin lebih kepada ikatan emosi yang timbul oleh pengidap vorarephilia.

Pada akhirnya aktivitas seksual yang dilakukan oleh manusia untuk menyalurkan hasratnya mengenai seksualitas adalah untuk berhubungan dengan tujuan kopulasi, rekreasi juga untuk berkembang biak. Meskipun pada akhirnya menyalurkan perilaku hewan ini bagi manusia ada kaitannya dengan masalah rasa, tidak hanya membangkitkan rangsangan melalui sentuhan.

Then, sampai sejauh ini bahasan saya. Baru kali ini menulis tentang seksualitas, untuk itu silahkan saya diberikan kritik dan saran.

                                                                                                                                                       Terima Kasih

😊😊😊

Sedang memikirkan untuk meminta maaf buat keputusan yang mungkin akan saya ambil.

Berat sekali sebenarnya mengambil keputusan ini, padahal tinggal selangkah lagi saya bisa bebas.

Kepada kalian yang akan ditinggalkan, percayalah kita tetap akan selalu bersama. Yakinlah sedih itu hanya semu, suatu ketika kita tetap bisa berjumpa lagi.

Terima kasih,

Sweet 24th Years Old

Saya selalu dibikin takjub dan jatuh cinta pada semua kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Abba Father itu baik, sungguh baik, sangat baik dan saya bersyukur karena itu, bukan berarti sebelumnya disetiap saat saya tidak bersyukur. Momen itu juga terjadi pada beberapa hari yang lalu tepat tanggal 1 November 2016, saya diperbolehkan untuk menikmati pertambahan usia menjadi 24 tahun. Tidak pernah membayangkan bahwa diusia yang sudah menginjak hampir seperempat abad ini saya masih bisa bernafas, berlari, menulis, berdetak jantungnya, tersenyum, sedih, lelah, sakit dan sebagainya.

Kebanyakan perempuan pada umumnya mungkin menginginkan hadiah yang istimewa, yah saya melihat pola itu dari beberapa saudara, teman dan senior saya. Biasanya akan jauh lebih baik bagi mereka yang berusia 20 an memiliki pasangan disaat – saat seperti ini atau jika sudah memiliki pasangan dihadiahkan sesuatu dari pasangan mereka adalah hal yang menyenangkan juga. Entah mengapa, itu tidak pernah berpengaruh kepada saya. Saya ingat betul setiap momen diwaktu ulang tahun, tidak mendapatkan kado adalah hal biasa, saya lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang memang selalu mengatakan bahwa merayakan ulang tahun secara mewah dan adanya tradisi kado bukanlah sesuatu yang penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan setiap detiknya ada iman yang tumbuh menjadi harapan, disetiap detik ada harapan yang muncul dan menjadi doa, disetiap detik ada doa yang menjadi berkat. Bayangkan di setiap tahun ada berapa detik ada harapan, doa dan berkat yang telah tersedia bagi saya. Saya tumbuh dengan pemikiran seperti itu, sehingga terkadang jika saya mendapatkan kado, kue ulang tahun, kejutan bahkan ucapan sekalipun saya akan tetap bersyukur akan hal itu. Itu tandanya mereka yang Tuhan tempatkan secara sengaja didalam hidup saya turut merasakan rasa syukur saya untuk setiap detik dimana ada iman yang tumbuh, harapan, doa dan berkat yang saya punya.

Tapi, dalam tulisan saya ini saya lebih ingin mengutarakan isi pikiran dan hati saya. Semua yang saya simpan sendiri dan terkadang saya ceritakan pada Tuhan.

Diusia yang telah tidak lagi remaja ini, atau menuju dewasa ini saya sering kali bertanya pada diri saya sendiri dan menjadi bahan renungan saya. “Jika besok Tuhan berkehendak bahwa saya dipanggilNya, apa yang sudah saya lakukan untuk setiap mimpi saya dimasa lalu?” saya punya banyak mimpi dimasa lalu. Salah satunya saya ingin setiap anak Papua itu punya hak untuk sejahtera, makanya dulu saya sempat berkeinginan untuk mendirikan sebuah yayasan untuk mewadahi keinginan saya ini. Lebih banyak bergerak dibidang pelayanan pendidikan dan kesehatan. Impian saya ini muncul sejak SD, gila bukan sejak kecil saya memimpikan hal ini. Alasan terbesar saya punya mimpi ini karena banyaknya anak-anak dikompleks rumah saya yang bahkan belum bisa merasakan “indahnya” pendidikan. Mereka lebih senang bermain disekitaran rumah tanpa tahu bagaimana menyebalkannya guru jika kita diberikan hukuman karena tidak mengerjakan pr atau mendapat pujian ketika mendapatkan nilai terbaik dikelas.

Saya dibesarkan disebuah kompleks perumahan yang dimana sejak saya lahir disana bapak saya sudah menjabat sebagai ketua RT sampai sekarang saya berusia 24 tahun secara keseluruhan bapak saya sudah menjadi ketua RT selama 25 tahun yah 8 tahun lagi mungkin dia bisa mengalahkan rekor Soeharto sebagai presiden dengan masa jabatan 32 tahun. Tapi, dikompleks saya itu banyak sekali anak-anak yang tidak sekolah padahal sebenarnya mereka mampu untuk mengenyam pendidikan dari keuangan orang tua mereka. Hanya saja kesadaran bahwa pentingnya pendidikan itu belum dimiliki semua keluarga dikompleks rumah saya. Melihat kondisi ini saya yang waktu itu memang lahir dan berada dalam kondisi yang memungkinkan mengenyam pendidikan karena keuangan kedua orang tua saya akhirnya diberikan dan kesadaran orang tua saya sangat tinggi, sampai saat ini ketika saya berkata ingin melanjutkan sekolah mereka tetap mendukung. Saya sangat bersyukur karena hal itu.

Saya yang waktu itu berpikir demikian sering mendapat komentar dari teman-teman saya mungkin karena waktu itu kami masih berusia 10 tahun. Pada usia itu semua anak-anak biasanya hanya berpikir untuk kesekolah dan bermain terus ketika pulang sekolah kerumah tetap bermain. Untuk itu saya merasa bahwa percuma saya mengatakan hal ini pada orang lain biarlah saya memendamnya sendiri, ini adalah angan-angan saya, ini adalah mimpi saya, ini adalah harapan saya. Bahkan pada kedua orang tua saya pun saya tidak pernah bercerita. Sehingga semakin lama semakin terkubur impian itu, sebab banyaknya tuntutan yang saya harus kejar dalam hidup saya, entah itu dari saya sendiri, atau dari orang tua saya atau bahkan mereka yang berada dilingkungan saya. Saya menjadi orang lain, saya menjadi bukan diri saya, dimana banyak sekali mimpi dimasa lalu yang saya kubur dalam-dalam karena saya harus menerima kenyataan bahwa, saya sedang menjadi seorang manusia yang bahkan jalan hidupnya telah diatur oleh sebuah pemikiran kesuksesan bukan karena mimpi. Dan hal ini terjadi karena saya tidak bisa membagikan impian saya kepada orang lain, saya terlalu takut tidak diterima atau bahkan ditertawakan dan itu terjadi sewaktu saya berusia 10 tahun. Setiap bertambahnya usia saya semua mimpi itu hilang begitu saja.

Suatu ketika impian itu muncul kembali sangat luar biasa daya pikatnya, sangat begitu kuat sehingga saya kembali teringat. Dan hal ini muncul karena kebiasaan saya bermain sosial media ini. Saya ingat waktu itu tanggal 27 November 2015, saat dimana impian itu bangkit kembali dari mati surinya yang telah secara sengaja maupun tidak telah saya kubur dalam-dalam. Saya membaca sebuah postingan teman saya tentang percakapannya dengan keponakannya dengan bahasan tentang kematian seorang anak Papua yang membuat saya ter-enyuh sesaat.

2016-11-14-00-13-28

Hari itu, 27 November 2015. Hari dimana saya untuk pertama kalinya menyesali perbuatan saya dengan mengubur impian saya, saya menangis sepanjang malam. Bagaimana bisa saya sebagai seorang yang bahkan dengan giat belajar untuk meraih sebuah kesuksesan melupakan impian saya yang telah ada dan pada akhirnya hanya duduk dan menangisi hal seperti ini. Saya menangis sepanjang malam setelah melihat postingan ini dan bahkan jika melihatnya lagi saya masih sempat meneteskan air mata untuk mereka, sejak saat itu saya mulai bermimpi kearah yang lebih tinggi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan saya dan berusaha untuk tetap mewujudkannya meskipun sekarang masih dalam tahap belajar dan menyelesaikan yang telah saya mulai.

Saya juga selalu memuji para pejuang kesejahteraan yang saat ini sedang dengan berani mengangkat isu ini dan melakukan tindakan nyata unutk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan diamanapun mereka berada, disetiap sudut Tanah Papua. Saya selalu membawa kalian dalam doa saya agar kita selalu dalam lindungan Kasih Bapa. Maka, ijinkan saya untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai saat ini dan pada akhirnya bisa bergabung dengan kalian wahai para pelita menjalani impian saya. Pada awalnya itu hanya menjadi impian bagi saya yang pada masa lalu saya kubur karena adanya tuntutan, sekarang jika Tuhan berkehendak saya akan menjadikannya sebagai tujuan hidup saya.

Saya tidak pernah percaya kepada yang namanya ‘kebetulan’ yang saya tahu semua ini telah diatur oleh Tuhan, saya yakin semua ini memang jalanNya, sehingga ini adalah adalah iman saya yang tumbuh, harapan yang muncul karena iman saya yang tumbuh serta selalu saya bawa dalam tiap doa saya entah sedang mengeluh atau bahkan sedang bersyukur dan kiranya sesuai dengan kehendak Bapa ini menjadi berkat bagi saya dan juga bagi orang lain.

Sweet 24th life, cukuplah berkelana saatnya kembali menjadi sweet 10th dreams and become a life. My Life.

RRI yang Selalu di Hati

Well, sebenarnya saya tuh penggemar setia radio. Maklum dulu sebelum ada play list yang bisa di putar di smartphone, saya dengerin lagu2 di radio. Ah tapi kebiasaan ini terus menerus dibawa-bawa meskipun sekarang saya punya laptop dan smartphone yang bisa dengan santai dengerin lagu kapanpun, dimanapun asal gak habis baterai ajah…

Tapi, sumpah saya baru tahu kalo RRI se keren ini! RRI tuh selalu jadi sahabat malam yang paling yahud, soalnya mereka tahu memanjakan telinga apalagi program malam hari dari PRO 2 FM RRI JAYAPURA.

Atau dipagi hari yang beritanya selalu langsung dan baru. Menjadi sahabat mereka yang mendengar pengumuman atau berita tentang apa saja.

Duh makin terpesona saya sama yang namanya Lembaga Penyiaran Radio. Semoga punya kesempatan buat jadi penyiar aminnnnnn..

Buat RRI, jangan putus yah saya selalu jadi pendengar setiamu.

“Sekali diudara Tetap diudara”

http://geotimes.co.id/rri-yang-makin-sayup-terdengar/

Perempuan (dan) Papua (ii)

Setelah bergumul dengan banyaknya urusan akademik, akhirnya ditengah-tengah hiruk pikuk kampus – kota – kosan – komunitas – kampus – kosan saya menyelesaikan tulisan saya yang kedua ini. Tulisan kedua ini adalah lanjutan dari opini awal tulisan saya yang pertama tentang Perempuan (dan) Papua dan seperti biasa tanpa merendahkan semua Perempuan Papua dimanapun berada saya menuliskan tulisan ini. Dalam tulisan ini saya ingin membangun sebuah opini dimana inilah fakta yang terjadi, saya tidak ingin menyarankan sebuah solusi disini ‘karena ada banyak sekali jalan menuju Roma’, saya tahu bahwa semua orang pasti selalu punya cara tersendiri untuk melihat sebuah masalah dan menentukan solusinya seperti apa. Sebab, kemampuan setiap orang adalah berbeda-beda. Sehingga yang saya beritakan adalah sebuah opini yang kembali saya lihat, baca rasakan serta pelajari. Kembali lagi jika akhirnya saya salah atau malah tidak dibenarkan, tolong saya dikritisi agar menjadi pelajaran juga bagi saya.

Saya selalu bingung jika ditanya tentang Papua, sebab Papua itu terlalu kompleks untuk dijelaskan maka biasanya saya akan bertanya balik jawaban apa yang biasanya mereka inginkan. Tak kadang saya lebih banyak bercerita tentang budaya kami, adat istiadat bahkan sebuah ‘kebiasaan yang mengatasnamakan budaya atau adat istiadat orang Papua’ yang sebenarnya tercipta karena pergeseran jaman atau karena adanya mind set baru dari sebuah sistem yang secara sengaja diciptakan untuk menggeser atau bahkan mengubah nilai-nilai moral dari sistem sebelumnya. Saya selalu menyebutnya ‘sengaja’ sebab menurut saya itulah yang dibuat oleh para pendahulu dimasa sebelumnya misalnya, sebuah mind set bahwa penyetaraan makan nasi adalah sebuah keharusan agar rakyat terlihat sejahtera padahal kita tahu tidak semua tempat bisa ditanami padi dinegeri ini, atau jika kamu tidak memiliki pendidikan berarti bodoh menurut sistem yang telah dibangun sejak jaman bahela. Tapi saya rasa itu merupakan bahasan untuk opini saya berikutnya, yah meskipun nanti dalam tulisan ini juga akan saya sedikit singgung juga, untuk saat ini saya ingin membahas tentang budaya patriarki dan praktek-prakteknya, dimana hal ini ditentang keras oleh saya sendiri dan juga beberapa nama besar dinegeri ini.

“Mari su tong kupas akan satu – satu”

Patriarki berasal dari kata patri-arkat, yang berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segala-galanya. Jadi budaya Patriarki adalah budaya yang dibangun di atas dasar struktur dominasi dan sub-ordinasi. Sub-ordinasi adalah sebuah paham dimana menempatkan wanita pada tempat paling bawah dan tempat teratas adalah pria yang mengharuskan suatu hirarki dimana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma.

Marisa Rueda dalam bukunya “Feminisme untuk Pemula” yang dia susun bersama Marta Rodriguez dan Susan Alice Watkins mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan terhadap perempuan. Masyarakat yang menganut sistem patriarki selalu meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Sejarah masyarakat patriarki sejak awal membentuk peradaban manusia yang menganggap bahwa laki-laki lebih kuat (superior) dibanding perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Budaya patriarki ini diwariskan secara turun-temurun sehingga membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat akhirnya terbentuk sebuah hirarki gender.

Patriarki juga ternyata terbentuk dari konsep perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat pada umumnya memandang perbedaan biologis ini sebagai status yang tidak setara. Perempuan yang tidak memiliki otot dipercayai untuk membangun rumah misalnya atau mengangkat beban berat, hal ini biasanya ditetapkan sebagai alasan mengapa masyarakat meletakkan perempuan pada posisi lemah (inferior). Dengan adanya budaya seperti ini maka, secara sengaja atau tidak telah berlaku sangat lama dan diturun temurunkan kedalam keluarga (anggota keluarga). Dikenalkan sejak dini sebagai pola pemikiran dan bahkan parahnya itu adalah pola hidup terutama kepada anak. Anak-anak dalam keluarga akan diajarkan sesuai perilaku dari kedua orang tuanya misalnya cara menjamu tamu atau urusan dapur akan diserahkan secara penuh kepada anak perempuan. Sedang anak laki-laki akan melakukan aktifitas yang dicontohkan oleh ayahnya atau bahkan diberikan sebuah ajaran yang diharuskan oleh ibu dan ayahnya karena dianggap sebagai cara hidup atau biar lebih menjelaskan saya menyebutkan dengan kalimat cara berperilaku sebagai seorang perempuan atau seorang laki-laki. Tapi, disini saya hanya mengambil contoh perilaku yang menurut saya adalah sebuah penindasan terhadap perempuan. Misalnya, stereotip tentang tidak adanya hak ulayat atau hak atas warisan secara adat dari orang tua kepada anak perempuannya. Sebab akan dianggap pergi meninggalkan rumah setelah dia menikah dan ikut suami pada kebanyakan adat. Dan ini bisa dibilang bahwa sebenarnya penindasan patriarki juga berdasarkan penindasan menurut kelas. Maka, tidak dapat disangkali bahwa perempuan pada dasarnya adalah sekitaran Kasur dan Dapur atau Putri, Istri dan Ibu, sedang hak-hak yang lain tidak dipunyai sama sekali. Para perempuan seperti ini biasanya hanya akan menerima dirinya yang terlahir demikian dan terus terbelenggu dalam ikatan ini, bahkan paling parahnya mereka menganggap itu adalah takdir. Dilahirkan sebagai seorang perempuan kewajibannya harus terus dipenuhi karena pandangan masyarakat yang selalu mengatas namakan “kodrat”.

Ideologi patriarki sangat sulit untuk dihilangkan dari masyarakat karena masyarakat tetap memeliharanya. Stereotip yang melekat kepada perempuan sebagai pekerja domestik membuatnya lemah karena dia tidak mendapatkan uang dari hasil kerjanya mengurus rumah tangga. Pekerjaan domestik tersebut dianggap remeh dan menjadi kewajibannya sebagai perempuan. Atau para wanita yang bekerja di perkantoran, tenaga yang dikeluarkan sama dengan pria bayarannya tidak seberapa atau malah tak jarang perempuan hanya dipakai sebagai ‘pajangan di kantor’ misalnya resepsionis. Mungkin karena adanya stereotip yang mengatakan bahwa perempuan menggunakan perasaan disetiap langkahnya, sedang pria menggunakan akal sehatnya. Padahal menurut Kaum Marxis kita menggunakan Dialektika, sebab akal sehat tidak dapat memahami hal-hal kompleks. Dengan dialektika, kita dapat mengetahui setiap kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap kelemahan dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik lemah yang mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian adalah bahan bakar bagi sebuah kelahiran baru. Dialektika bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus berlangsung dan tanpa henti. Tidak selalu berjalan lurus, kadang zig-zag, mengalami proses yang gradual, stagnasi dan kemunduran, bahkan mengalami lompatan-lompatan.

Ditambah lagi kaum Marxis juga mengiyakan adanya penindasan terhadap perempuan dimana pada abad 17 dan 18 masa perkembangan industrialisasi secara radikal telah mengubah tatanan lama dalam hubungan keluarga. Sebenarnya sebelum muncul sebuah kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ atas alat produksi dan pembagian masyarakat secara kelas, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dan terlibat dalam produksi secara rata dan setara. Namun, akibat adanya kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ inilah yang akhirnya membuat perempuan berada dalam sebuah sistem yang disebut  kerja rumah tangga dan selalu berada di dalamnya. Kaum Marxis adalah mereka yang berjuang melawan penindasan yang mana menurut mereka akar masalah dari segala bentuk penindasan terdiri dalam pembagian masyarakat ke dalam kelas. Tapi penindasan dapat mengambil banyak bentuk. Di samping penindasan kelas, kita menemukan penindasan satu bangsa di atas yang lain, penindasan rasial, dan penindasan terhadap perempuan. Para kaum ini terbentuk dari paham yang berdasarkan pada pandangan-pandangan Karl Marx, dimana Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik yang mana Marx lebih banyak menyinggung tentang masalah kapitalisme perkembangannya dan tentu saja praktek-prakteknya.

Jadi, sebenarnya menurut saya. Budaya Patriarki adalah sebuah pola ‘sebab-akibat’ dari perbedaan kelas yang menurut saya inilah yang sedang menimpa kebanyakan perempuan ditengah lingkup masyarakat:

  1. Pola pemikiran superior dan inferior dari perbedaan biologi yang mana sebenarnya ini juga bagian dari perbedaan kelas.
  2. Bangsa atau rasial. Kalau pola penindasan secara bangsa atau rasial ini saya lebih mengarah pada spesifikasi secara suku. Meskipun sebenarnya bahan cakupannya cukup luas dan rumit. Oleh karena itu saya hanya mengambilnya secara suku atau adat istiadat. Dimana dengan mengatasnamakan adat istiadat beberapa orang menunjukan perilaku ketidak adilan terhadap perempuan.
  3. Kapitalisme dan fundamentalisme yang sebenarnya mau saya bahas di opini berikutnya hanya saja sepertinya penindasan berkedok Patriarki ini tak dapat terlepas dari kedua hal ini juga.

“Terus apa hubungannya dengan Perempuan Papua?”

Baiklah akan kita bahas dari panjang dan lebar bahasan saya yang mungkin agak ngelantur juga diatas tentang apa hubungannya dengan perempuan papua.

Perempuan Papua, adalah contoh paling besar dari penindasan ini. Penindasan secara patriarki yang didalamnya ada masalah Kapitalisme, Perbedaan Kelas, dan Suku atau adat istiadat (mungkin agama juga). Iya saya menyebutkan agama juga karena secara tidak langsung ada beberapa hal yang menyebabkan banyak pertanyaan yang muncul misalnya kenapa biarawati harus perempuan? Tapi saya tidak mau membahas itu karena semua topik yang berhubungan dengan SAKRAL merupakan keyakinan masing-masing, (tapi saya tolong dijawab yah biar tahu juga haha) hal yang timbul karena kerelaan hatimu untuk meyakini bukan karena dipaksa.

Perempuan Papua sejak dilahirkan sudah pasti akan menjadi bagian dari adat istiadat yang ribetnya minta ampun dengan melaksanakan segala jenis aturan dari sejak lahir hingga menagalami semua ketidak adilan yang dirasakan. Ketidak adilan yang bukan hanya datang dari lingkungan sekitarnya, keluarga tapi juga dari diri sendiri yang mana biasanya mereka menyebutnya sebagai takdir Tuhan. Jika terlahir sebagai seorang perempuan inilah jalannya. Banyak sekali yang menentang budaya patriarki karena tidak sesuai dengan hak – hak perempuan yang saat ini menuju pada pemikiran modernisasi.

Budaya Patriarki mampu membentuk masalah – masalah yang sebenarnya secara tidak disadari tetap dilakukan oleh para Perempuan Papua dikawal oleh pelaku penindasan ini. Masalah yang tengah dihadapi oleh Perempuan Papua saat ini menurut saya adalah :

  1. Poligami

Baiklah, ada sebagian pemahaman bahwa satu pria dapat memiliki isteri lebih dari satu bahkan jika dia memiliki isteri dari satu akan menunjukan bahwa dia adalah seorang pria dengan kelas tertentu.

  1. Menjadi sebuah Komoditas

Ini yang paling menyedihkan bagi saya, yakni menjadi sebuah komoditas. Tanpa memikirkan bahwa sebenarnya ditangan seorang perempuan itu akan tumbuh sebuah kehidupan, tak dapat disangkali bahwa mereka juga dijadikan sebuah komoditas yang seperti benda diperjual belikan. Hal ini ada pada sisi kehidupan pernikahan yakni adanya pemikiran dari pembayaran mahar atau mas kawin. Misalnya “ah, sa su bayar ko. Jadi sa mo bikin apa ke ko itu sa pu hak”. Padahal sebenarnya mahar atau mas kawin adalah sebuah bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mempererat hubungan keluarga yang akan menjadi satu keluarga utuh karena dua orang yang akan dipersatukan. Tapi, pada masyarakat saat ini pembayaran mahar dilakukan agar perempuan menjadi hak utuh atau penuh dari sang pembayar mahar atau mas kawin. Sebab, biasanya pihak perempuan tidak bisa berbuat apapun ketika mahar atau mas kawin telah dibayarkan jika terjadi sesuatu kepada anak perempuan mereka misalnya kekerasan dalam rumah tangga secara fisik maupun finansial ataupun secara batin.  Apalagi jika pembayaran itu dalam jumlah yang besar atau sangat berharga. Tapi, mungkin saja ini mulai terkikis satu per satu karena pola pemikiran masyarakat Papua yang mulai menerima konsep modernisasi.

  1. Pelayan

Dan inilah pelayan abadi menurut kodrat dari perempuan Papua, Pelayan didapur dan diatas ranjang. Pelayan yang siap sedia melayani kebutuhan anak – anak dan suami padahal kebutuhan anak – anak adalah tanggung jawab bersama laki – laki dan perempuan. Melayani kebutuhan suami bahkan bukan hanya makan tapi juga kebutuhan biologisnya. Luar biasa perempuan yang bekerja dirumah memiliki waktu 24 jam siap sigap untuk patroli. Tapi, itu adalah perempuan pada umumnya, Perempuan Papua memiliki jam kerja selama 24 jam. Bagaimana tidak, mengurus anak dan suami dan pagi dan sore hari terus berikutnya pergi ke kebun untuk menanam segala kebutuhan keluarga, terus harus bergerak menuju pasar untuk mencari tambahan uang menjual hasil bumi yang mereka tanam.

  1. Status yang adakalanya bisa tidak diakui

Untuk pembaca yang baik hati, saya mau menyampaikan sesuatu tentang status yang tidak diakui ini. Jadi dalam adat orang Papua, perempuan akan menjadi sebuah keberkahan jika dia melahirkan anak laki – laki bagi suaminya. Dia akan bangga bahwa seorang penerus, seorang ahli waris telah lahir dari kandungannya. Tapi, tidak terjadi demikian kepada mereka yang melahirkan anak perempuan bagi suaminya. Padahal anak perempuan bukanlah sebuah kesalahan, saya sendiri masih bingung dengan hal ini, anak perempuan sebenarnya akan tidak sama sekali diberikan hak atau tidak punya hak dalam adat keluarganya tapi, ketika mengarah pada pembayaran mahar atau mas kawin. Keluarga akan dengan sangat antusias untuk meminta harga lebih, seakan – akan anak perempuan itu sangat istimewa padahal pada kenyataannya yang akan memiliki mahar itu adalah mereka yang tidak memberikan hak untuk sang anak perempuan. Adanya sebuah ketidak adilan yang saling berkaitan disini, bahkan ibu sang anak perempuan ini juga bisa rela suaminya melakukan poligami dengan alasan isterinya tidak bisa memberikannya anak laki – laki. Mirisnya kebanyakan dari Perempuan Papua menganggap ini semua adalah takdir dari Tuhan jadi yah dijalani. Dan mohon maaf penindasan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh pihak laki – laki bahkan pihak perempuan pun melakukan hal yang sama.

  1. Stigma-stigma yang terbentuk

Yang lebih menyebalkan lagi adalah masalah sebuah stigma yang mengatakan bahwa pernikahan antara laki – laki dan perempuan itu dilakukan jika perempuan sudah mengandung anak dari laki – laki, saya tidak mengada-ada ini adalah cerita dari beberapa Perempuan Papua yang saya kenal. Ini adalah sebuah pelecehan dan penghinaan menurut saya bagi seorang Perempuan Papua. Karena menurut saya laki – laki seperti itu hanya mendahulukan nafsu. Awalan yang baik adalah dengan meminta secara formal dan baik – baik kepada orang tua perempuan. Mendingan sih kalo setelah perbuatan nafsu itu laki – laki ini bertanggung jawab nah jika tidak akan menjadi sebuah beban pikiran besar bagi perempuan itu. Saya lebih kasihan dan sedih lagi bahwa stigma ini secara terang-terangan menyebar dan menyerang kaum perempuan muda pada usia sekolah yang secara biologinya dia belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Bahkan sepertinya berhubungan badan pun seorang perempuan dengan usia ini sebenarnya belum siap.

Kelima hal diatas akhirnya mengingatkan saya pada kesenjangan sosial yang diterima oleh para Perempuan Papua, yakni mereka yang dibentuk dari rumah karena pola pikir dan tingkat pendidikan dari orang tua selaku pendidik dirumah yang rendah sehingga yang diajarkan kepada anaknya adalah sebuah ajaran yang dilakukan secara turun temurun. Atau pendidikan anak yang rendah sehingga mempengaruhi pola pikir sang anak, dengan demikian anak tersebut tidak memikirkan langkah kedepannya.

Perempuan Papua tengah hidup dalam penindasan akibat patriarki sehingga kebanyakan dari mereka tertindas secara fisik dan batin. Tapi, bukan hanya patriarki yang menjadi pola penindasan yang terjadi pada Perempuan Papua ternyata kapitalisme serta fundamentalisme pun ikut mengambil bagian didalamnya.

Maaf, mungkin teman-teman jadinya penasaran dengan apa yang saya sebutkan atau bahkan tidak mengerti. Tapi, saya memohon maaf inilah yang terjadi karena apa yang saya tuliskan merupakan sebuah dampak dari sistem yang terbentuk dari patriarki, kapitalisme dan fundamentalisme.

Saya berharap dengan membaca tulisan ini setiap orang sadar bahwa sebenarnya seorang perempuan yang hidup dalam budaya Patriarki yang diterapkan ini adalah sesuatu yang perlu dikaji ulang. Bukan berarti saya menentang semua seluk beluk budaya dan adat istiadat kami. Saya sadar bahwa sebenarnya adat istiadat dan budaya kami harus dijunjung tinggi karena didalamnya masih ada yang mengedepankan nilai-nilai atau norma-norma positif, hanya saja sebagai seorang manusia budaya ini telah berakibat sangat besar bagi keberlangsungan hidup seorang jiwa anak Papua. Sebab, seperti sebelumnya yang saya katakan pada tulisan pertama saya Perempuan adalah Pembentuk Kehidupan. Maka jika dia tidak mendapatkan kesejahteraan, bagaimana mungkin seorang Perempuan Papua bisa melahirkan generasi hebat. Ingatlah, sejahtera itu bukan berarti kaya, punya uang belanja setiap bulannya. Tapi sejahtera adalah terlepas dari sebuah kata ‘bodoh’, sebuah kata ‘miskin’ dan sebuah kata ‘komoditas’ yang dimana semua ini telah terbentuk diawal jaman oleh para pendahulu. Perempuan Papua punya hak untuk hidup, Perempuan Papua punya hak untuk sejahtera.

Terlahir sebagai seorang perempuan bagi saya memang adalah sebuah takdir, tapi untuk mengikuti segala jenis penindasan berkedok aturan bukanlah sebuah takdir bagi saya.

Terima Kasih, Tuhan Berkati 🙂

Nourish Christine Griapon

 

Daftar pustaka :

  1. Marisa Rueda, dkk. Feminisme Untuk Pemula.
  2. http://www.militanindonesia.org/teori-4/gerakan-perempuan/8512-revolusi-dan-perempuan.html
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme
  4. http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/tubuh-perempuan-yang-dipatuhkan

Gak Penting (ii)

Dulu, sewaktu saya masih kecil usia sekitaran 7 hingga 10 tahun saya selalu berpendapat bahwa sepertinya seru ya jika kita menjadi orang dewasa. Pada waktu itu saya melihat orang-orang dengan ukuran usia. Banyak hal yang bisa dilakukan, tapi ternyata setelah bertambah usia saya benar-benar menyadari bahwa kedewasaan adalah sebuah pola kepribadian yang terbentuk karena wawasan yang luas serta pengalaman jadi usia bukanlah sebuah patokan kedewasaan seseorang.

Yah, saya yakin sebenarnya semua orang berusaha menuju kedewasaannya dengan caranya masing-masing. Ada yang dewasa karena pengalaman, kalau yang ini saya berani mengatakan bahwa usia dan kerja kerasnya mempengaruhi pola pikirnya sehingga membentuk pribadi yang seperti demikian. Ada juga yang dewasa karena belajar kalau yang ini usia bukanlah sebuah penentu, sebab bisa saja seseorang yang lebih muda akan lebih dewasa dari yang lebih tua umur dari orang muda tersebut.

Saya menyadari bahwa didunia ini, se-humble, sekocak, se-friendly, sebaik apapun seorang manusia dia pasti memiliki banyak ‘secret admire’ saya lebih senang menyebut mereka demikian daripada kata haters yah kayak yang dimedia sosial instagram, twitter, facebook dsb. Sebab bagi saya untuk seorang atau lebih yang punya satu obsesi tentangmu sehingga dia tahu setiap gerak gerikmu sama saja kan dengan fans kamu, bedanya mereka mencibir semua yang kamu lakukan mungkin bahkan jika kamu sedang ke kamar mandi saja dicibir.

Tapi memang mungkin bagi kita yang sedang menghadapi kaum ‘secret admire’ ini pun, tak pernah sadar dan peka terhadap apa yang mereka inginkan. Misalnya perilaku easy going yang kita punya terkadang membuat mereka merasa tersaingi, maklum saya juga pernah seperti demikan minder dan malu serta merasa diabaikan dalam sebuah obrolan bahkan komunitas. Tapi, buat saya itu adalah cara tersendiri buat belajar percaya diri. Sebab kalau pada akhirnya hanya mencibir orang tidak akan membuat saya mengenal banyak orang. Tapi sih balik lagi yah, kamu akan punya banyak sekali pengetahuan jika kamu mengenal dirimu sendiri. Percaya diri itu penting, sehingga saya selalu bisa membuat orang mau ngobrol dengan saya. Padahal saya dulu termasuk seorang pemalu (trust me that’s true), oh thanks God. You gave me a chance to meet some people, they are great people and they help me.

Jadi menurut saya, kalau memang anda merasa tersaingi carilah dimana kekuatan kamu. Belajarlah percaya diri disana dan jangan lupa pembawaan diri yang positif. Yah saya sedang belajar kesana juga sih, emang tidak mudah untuk terus membawa aura positif. Contohnya cap ‘pembawa acara infotaiment’ itu sudah menempel pada saya dikalangan kampus hahahaha, padahal mah itu semua tuh adalah sebuah fakta yang telah terjadi. Sekarang saya lebih banyak diam sih jika mendengar sesuatu atau melihat atau bahkan memilih pergi dan berlalu dari pembicaraan itu. Tapi tetap saja cap itu tidak hilang-hilang juga, sebab seorang penjahat yang mengakui kesalahannya dan bertobat serta menerima hukumannya tetap saja akan disebut penjahat. Bagi saya that’s okey, that’s my ‘Jalan Ninja’ hahaha.

Jadi, ayok tetap belajar menjadi positif sebab yang namanya belajar itu sesuatu yang dilakukan sampai otak kita mati fungsinya.

Terima Kasih, Have a bless Tuesday

Nourish Christine Griapon