😊😊😊

Sedang memikirkan untuk meminta maaf buat keputusan yang mungkin akan saya ambil.

Berat sekali sebenarnya mengambil keputusan ini, padahal tinggal selangkah lagi saya bisa bebas.

Kepada kalian yang akan ditinggalkan, percayalah kita tetap akan selalu bersama. Yakinlah sedih itu hanya semu, suatu ketika kita tetap bisa berjumpa lagi.

Terima kasih,

Sweet 24th Years Old

Saya selalu dibikin takjub dan jatuh cinta pada semua kejadian yang terjadi dalam hidup saya. Abba Father itu baik, sungguh baik, sangat baik dan saya bersyukur karena itu, bukan berarti sebelumnya disetiap saat saya tidak bersyukur. Momen itu juga terjadi pada beberapa hari yang lalu tepat tanggal 1 November 2016, saya diperbolehkan untuk menikmati pertambahan usia menjadi 24 tahun. Tidak pernah membayangkan bahwa diusia yang sudah menginjak hampir seperempat abad ini saya masih bisa bernafas, berlari, menulis, berdetak jantungnya, tersenyum, sedih, lelah, sakit dan sebagainya.

Kebanyakan perempuan pada umumnya mungkin menginginkan hadiah yang istimewa, yah saya melihat pola itu dari beberapa saudara, teman dan senior saya. Biasanya akan jauh lebih baik bagi mereka yang berusia 20 an memiliki pasangan disaat – saat seperti ini atau jika sudah memiliki pasangan dihadiahkan sesuatu dari pasangan mereka adalah hal yang menyenangkan juga. Entah mengapa, itu tidak pernah berpengaruh kepada saya. Saya ingat betul setiap momen diwaktu ulang tahun, tidak mendapatkan kado adalah hal biasa, saya lahir dan dibesarkan oleh kedua orang tua yang memang selalu mengatakan bahwa merayakan ulang tahun secara mewah dan adanya tradisi kado bukanlah sesuatu yang penting. Yang terpenting adalah bagaimana kita mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan setiap detiknya ada iman yang tumbuh menjadi harapan, disetiap detik ada harapan yang muncul dan menjadi doa, disetiap detik ada doa yang menjadi berkat. Bayangkan di setiap tahun ada berapa detik ada harapan, doa dan berkat yang telah tersedia bagi saya. Saya tumbuh dengan pemikiran seperti itu, sehingga terkadang jika saya mendapatkan kado, kue ulang tahun, kejutan bahkan ucapan sekalipun saya akan tetap bersyukur akan hal itu. Itu tandanya mereka yang Tuhan tempatkan secara sengaja didalam hidup saya turut merasakan rasa syukur saya untuk setiap detik dimana ada iman yang tumbuh, harapan, doa dan berkat yang saya punya.

Tapi, dalam tulisan saya ini saya lebih ingin mengutarakan isi pikiran dan hati saya. Semua yang saya simpan sendiri dan terkadang saya ceritakan pada Tuhan.

Diusia yang telah tidak lagi remaja ini, atau menuju dewasa ini saya sering kali bertanya pada diri saya sendiri dan menjadi bahan renungan saya. “Jika besok Tuhan berkehendak bahwa saya dipanggilNya, apa yang sudah saya lakukan untuk setiap mimpi saya dimasa lalu?” saya punya banyak mimpi dimasa lalu. Salah satunya saya ingin setiap anak Papua itu punya hak untuk sejahtera, makanya dulu saya sempat berkeinginan untuk mendirikan sebuah yayasan untuk mewadahi keinginan saya ini. Lebih banyak bergerak dibidang pelayanan pendidikan dan kesehatan. Impian saya ini muncul sejak SD, gila bukan sejak kecil saya memimpikan hal ini. Alasan terbesar saya punya mimpi ini karena banyaknya anak-anak dikompleks rumah saya yang bahkan belum bisa merasakan “indahnya” pendidikan. Mereka lebih senang bermain disekitaran rumah tanpa tahu bagaimana menyebalkannya guru jika kita diberikan hukuman karena tidak mengerjakan pr atau mendapat pujian ketika mendapatkan nilai terbaik dikelas.

Saya dibesarkan disebuah kompleks perumahan yang dimana sejak saya lahir disana bapak saya sudah menjabat sebagai ketua RT sampai sekarang saya berusia 24 tahun secara keseluruhan bapak saya sudah menjadi ketua RT selama 25 tahun yah 8 tahun lagi mungkin dia bisa mengalahkan rekor Soeharto sebagai presiden dengan masa jabatan 32 tahun. Tapi, dikompleks saya itu banyak sekali anak-anak yang tidak sekolah padahal sebenarnya mereka mampu untuk mengenyam pendidikan dari keuangan orang tua mereka. Hanya saja kesadaran bahwa pentingnya pendidikan itu belum dimiliki semua keluarga dikompleks rumah saya. Melihat kondisi ini saya yang waktu itu memang lahir dan berada dalam kondisi yang memungkinkan mengenyam pendidikan karena keuangan kedua orang tua saya akhirnya diberikan dan kesadaran orang tua saya sangat tinggi, sampai saat ini ketika saya berkata ingin melanjutkan sekolah mereka tetap mendukung. Saya sangat bersyukur karena hal itu.

Saya yang waktu itu berpikir demikian sering mendapat komentar dari teman-teman saya mungkin karena waktu itu kami masih berusia 10 tahun. Pada usia itu semua anak-anak biasanya hanya berpikir untuk kesekolah dan bermain terus ketika pulang sekolah kerumah tetap bermain. Untuk itu saya merasa bahwa percuma saya mengatakan hal ini pada orang lain biarlah saya memendamnya sendiri, ini adalah angan-angan saya, ini adalah mimpi saya, ini adalah harapan saya. Bahkan pada kedua orang tua saya pun saya tidak pernah bercerita. Sehingga semakin lama semakin terkubur impian itu, sebab banyaknya tuntutan yang saya harus kejar dalam hidup saya, entah itu dari saya sendiri, atau dari orang tua saya atau bahkan mereka yang berada dilingkungan saya. Saya menjadi orang lain, saya menjadi bukan diri saya, dimana banyak sekali mimpi dimasa lalu yang saya kubur dalam-dalam karena saya harus menerima kenyataan bahwa, saya sedang menjadi seorang manusia yang bahkan jalan hidupnya telah diatur oleh sebuah pemikiran kesuksesan bukan karena mimpi. Dan hal ini terjadi karena saya tidak bisa membagikan impian saya kepada orang lain, saya terlalu takut tidak diterima atau bahkan ditertawakan dan itu terjadi sewaktu saya berusia 10 tahun. Setiap bertambahnya usia saya semua mimpi itu hilang begitu saja.

Suatu ketika impian itu muncul kembali sangat luar biasa daya pikatnya, sangat begitu kuat sehingga saya kembali teringat. Dan hal ini muncul karena kebiasaan saya bermain sosial media ini. Saya ingat waktu itu tanggal 27 November 2015, saat dimana impian itu bangkit kembali dari mati surinya yang telah secara sengaja maupun tidak telah saya kubur dalam-dalam. Saya membaca sebuah postingan teman saya tentang percakapannya dengan keponakannya dengan bahasan tentang kematian seorang anak Papua yang membuat saya ter-enyuh sesaat.

2016-11-14-00-13-28

Hari itu, 27 November 2015. Hari dimana saya untuk pertama kalinya menyesali perbuatan saya dengan mengubur impian saya, saya menangis sepanjang malam. Bagaimana bisa saya sebagai seorang yang bahkan dengan giat belajar untuk meraih sebuah kesuksesan melupakan impian saya yang telah ada dan pada akhirnya hanya duduk dan menangisi hal seperti ini. Saya menangis sepanjang malam setelah melihat postingan ini dan bahkan jika melihatnya lagi saya masih sempat meneteskan air mata untuk mereka, sejak saat itu saya mulai bermimpi kearah yang lebih tinggi bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan saya dan berusaha untuk tetap mewujudkannya meskipun sekarang masih dalam tahap belajar dan menyelesaikan yang telah saya mulai.

Saya juga selalu memuji para pejuang kesejahteraan yang saat ini sedang dengan berani mengangkat isu ini dan melakukan tindakan nyata unutk melayani mereka yang membutuhkan pelayanan kesejahteraan diamanapun mereka berada, disetiap sudut Tanah Papua. Saya selalu membawa kalian dalam doa saya agar kita selalu dalam lindungan Kasih Bapa. Maka, ijinkan saya untuk menyelesaikan apa yang telah saya mulai saat ini dan pada akhirnya bisa bergabung dengan kalian wahai para pelita menjalani impian saya. Pada awalnya itu hanya menjadi impian bagi saya yang pada masa lalu saya kubur karena adanya tuntutan, sekarang jika Tuhan berkehendak saya akan menjadikannya sebagai tujuan hidup saya.

Saya tidak pernah percaya kepada yang namanya ‘kebetulan’ yang saya tahu semua ini telah diatur oleh Tuhan, saya yakin semua ini memang jalanNya, sehingga ini adalah adalah iman saya yang tumbuh, harapan yang muncul karena iman saya yang tumbuh serta selalu saya bawa dalam tiap doa saya entah sedang mengeluh atau bahkan sedang bersyukur dan kiranya sesuai dengan kehendak Bapa ini menjadi berkat bagi saya dan juga bagi orang lain.

Sweet 24th life, cukuplah berkelana saatnya kembali menjadi sweet 10th dreams and become a life. My Life.

RRI yang Selalu di Hati

Well, sebenarnya saya tuh penggemar setia radio. Maklum dulu sebelum ada play list yang bisa di putar di smartphone, saya dengerin lagu2 di radio. Ah tapi kebiasaan ini terus menerus dibawa-bawa meskipun sekarang saya punya laptop dan smartphone yang bisa dengan santai dengerin lagu kapanpun, dimanapun asal gak habis baterai ajah…

Tapi, sumpah saya baru tahu kalo RRI se keren ini! RRI tuh selalu jadi sahabat malam yang paling yahud, soalnya mereka tahu memanjakan telinga apalagi program malam hari dari PRO 2 FM RRI JAYAPURA.

Atau dipagi hari yang beritanya selalu langsung dan baru. Menjadi sahabat mereka yang mendengar pengumuman atau berita tentang apa saja.

Duh makin terpesona saya sama yang namanya Lembaga Penyiaran Radio. Semoga punya kesempatan buat jadi penyiar aminnnnnn..

Buat RRI, jangan putus yah saya selalu jadi pendengar setiamu.

“Sekali diudara Tetap diudara”

http://geotimes.co.id/rri-yang-makin-sayup-terdengar/

Perempuan (dan) Papua (ii)

Setelah bergumul dengan banyaknya urusan akademik, akhirnya ditengah-tengah hiruk pikuk kampus – kota – kosan – komunitas – kampus – kosan saya menyelesaikan tulisan saya yang kedua ini. Tulisan kedua ini adalah lanjutan dari opini awal tulisan saya yang pertama tentang Perempuan (dan) Papua dan seperti biasa tanpa merendahkan semua Perempuan Papua dimanapun berada saya menuliskan tulisan ini. Dalam tulisan ini saya ingin membangun sebuah opini dimana inilah fakta yang terjadi, saya tidak ingin menyarankan sebuah solusi disini ‘karena ada banyak sekali jalan menuju Roma’, saya tahu bahwa semua orang pasti selalu punya cara tersendiri untuk melihat sebuah masalah dan menentukan solusinya seperti apa. Sebab, kemampuan setiap orang adalah berbeda-beda. Sehingga yang saya beritakan adalah sebuah opini yang kembali saya lihat, baca rasakan serta pelajari. Kembali lagi jika akhirnya saya salah atau malah tidak dibenarkan, tolong saya dikritisi agar menjadi pelajaran juga bagi saya.

Saya selalu bingung jika ditanya tentang Papua, sebab Papua itu terlalu kompleks untuk dijelaskan maka biasanya saya akan bertanya balik jawaban apa yang biasanya mereka inginkan. Tak kadang saya lebih banyak bercerita tentang budaya kami, adat istiadat bahkan sebuah ‘kebiasaan yang mengatasnamakan budaya atau adat istiadat orang Papua’ yang sebenarnya tercipta karena pergeseran jaman atau karena adanya mind set baru dari sebuah sistem yang secara sengaja diciptakan untuk menggeser atau bahkan mengubah nilai-nilai moral dari sistem sebelumnya. Saya selalu menyebutnya ‘sengaja’ sebab menurut saya itulah yang dibuat oleh para pendahulu dimasa sebelumnya misalnya, sebuah mind set bahwa penyetaraan makan nasi adalah sebuah keharusan agar rakyat terlihat sejahtera padahal kita tahu tidak semua tempat bisa ditanami padi dinegeri ini, atau jika kamu tidak memiliki pendidikan berarti bodoh menurut sistem yang telah dibangun sejak jaman bahela. Tapi saya rasa itu merupakan bahasan untuk opini saya berikutnya, yah meskipun nanti dalam tulisan ini juga akan saya sedikit singgung juga, untuk saat ini saya ingin membahas tentang budaya patriarki dan praktek-prakteknya, dimana hal ini ditentang keras oleh saya sendiri dan juga beberapa nama besar dinegeri ini.

“Mari su tong kupas akan satu – satu”

Patriarki berasal dari kata patri-arkat, yang berarti struktur yang menempatkan peran laki-laki sebagai penguasa tunggal, sentral dari segala-galanya. Jadi budaya Patriarki adalah budaya yang dibangun di atas dasar struktur dominasi dan sub-ordinasi. Sub-ordinasi adalah sebuah paham dimana menempatkan wanita pada tempat paling bawah dan tempat teratas adalah pria yang mengharuskan suatu hirarki dimana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma.

Marisa Rueda dalam bukunya “Feminisme untuk Pemula” yang dia susun bersama Marta Rodriguez dan Susan Alice Watkins mengatakan bahwa patriarki adalah penyebab penindasan terhadap perempuan. Masyarakat yang menganut sistem patriarki selalu meletakkan laki-laki pada posisi dan kekuasaan yang dominan dibandingkan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Sejarah masyarakat patriarki sejak awal membentuk peradaban manusia yang menganggap bahwa laki-laki lebih kuat (superior) dibanding perempuan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun bernegara. Budaya patriarki ini diwariskan secara turun-temurun sehingga membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas antara laki-laki dan perempuan di dalam masyarakat akhirnya terbentuk sebuah hirarki gender.

Patriarki juga ternyata terbentuk dari konsep perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat pada umumnya memandang perbedaan biologis ini sebagai status yang tidak setara. Perempuan yang tidak memiliki otot dipercayai untuk membangun rumah misalnya atau mengangkat beban berat, hal ini biasanya ditetapkan sebagai alasan mengapa masyarakat meletakkan perempuan pada posisi lemah (inferior). Dengan adanya budaya seperti ini maka, secara sengaja atau tidak telah berlaku sangat lama dan diturun temurunkan kedalam keluarga (anggota keluarga). Dikenalkan sejak dini sebagai pola pemikiran dan bahkan parahnya itu adalah pola hidup terutama kepada anak. Anak-anak dalam keluarga akan diajarkan sesuai perilaku dari kedua orang tuanya misalnya cara menjamu tamu atau urusan dapur akan diserahkan secara penuh kepada anak perempuan. Sedang anak laki-laki akan melakukan aktifitas yang dicontohkan oleh ayahnya atau bahkan diberikan sebuah ajaran yang diharuskan oleh ibu dan ayahnya karena dianggap sebagai cara hidup atau biar lebih menjelaskan saya menyebutkan dengan kalimat cara berperilaku sebagai seorang perempuan atau seorang laki-laki. Tapi, disini saya hanya mengambil contoh perilaku yang menurut saya adalah sebuah penindasan terhadap perempuan. Misalnya, stereotip tentang tidak adanya hak ulayat atau hak atas warisan secara adat dari orang tua kepada anak perempuannya. Sebab akan dianggap pergi meninggalkan rumah setelah dia menikah dan ikut suami pada kebanyakan adat. Dan ini bisa dibilang bahwa sebenarnya penindasan patriarki juga berdasarkan penindasan menurut kelas. Maka, tidak dapat disangkali bahwa perempuan pada dasarnya adalah sekitaran Kasur dan Dapur atau Putri, Istri dan Ibu, sedang hak-hak yang lain tidak dipunyai sama sekali. Para perempuan seperti ini biasanya hanya akan menerima dirinya yang terlahir demikian dan terus terbelenggu dalam ikatan ini, bahkan paling parahnya mereka menganggap itu adalah takdir. Dilahirkan sebagai seorang perempuan kewajibannya harus terus dipenuhi karena pandangan masyarakat yang selalu mengatas namakan “kodrat”.

Ideologi patriarki sangat sulit untuk dihilangkan dari masyarakat karena masyarakat tetap memeliharanya. Stereotip yang melekat kepada perempuan sebagai pekerja domestik membuatnya lemah karena dia tidak mendapatkan uang dari hasil kerjanya mengurus rumah tangga. Pekerjaan domestik tersebut dianggap remeh dan menjadi kewajibannya sebagai perempuan. Atau para wanita yang bekerja di perkantoran, tenaga yang dikeluarkan sama dengan pria bayarannya tidak seberapa atau malah tak jarang perempuan hanya dipakai sebagai ‘pajangan di kantor’ misalnya resepsionis. Mungkin karena adanya stereotip yang mengatakan bahwa perempuan menggunakan perasaan disetiap langkahnya, sedang pria menggunakan akal sehatnya. Padahal menurut Kaum Marxis kita menggunakan Dialektika, sebab akal sehat tidak dapat memahami hal-hal kompleks. Dengan dialektika, kita dapat mengetahui setiap kemunduran selalu mengandung potensi untuk terjadinya kemajuan, tiap kelemahan dapat dibalik menjadi kekuatan, tiap kekuatan dapat menjadi titik lemah yang mematikan, tiap kelahiran akan membawa kematian dan tiap kematian adalah bahan bakar bagi sebuah kelahiran baru. Dialektika bekerja tanpa kasat mata. Ia adalah proses yang terus berlangsung dan tanpa henti. Tidak selalu berjalan lurus, kadang zig-zag, mengalami proses yang gradual, stagnasi dan kemunduran, bahkan mengalami lompatan-lompatan.

Ditambah lagi kaum Marxis juga mengiyakan adanya penindasan terhadap perempuan dimana pada abad 17 dan 18 masa perkembangan industrialisasi secara radikal telah mengubah tatanan lama dalam hubungan keluarga. Sebenarnya sebelum muncul sebuah kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ atas alat produksi dan pembagian masyarakat secara kelas, perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama dan terlibat dalam produksi secara rata dan setara. Namun, akibat adanya kata sifat ‘kepemilikan pribadi’ inilah yang akhirnya membuat perempuan berada dalam sebuah sistem yang disebut  kerja rumah tangga dan selalu berada di dalamnya. Kaum Marxis adalah mereka yang berjuang melawan penindasan yang mana menurut mereka akar masalah dari segala bentuk penindasan terdiri dalam pembagian masyarakat ke dalam kelas. Tapi penindasan dapat mengambil banyak bentuk. Di samping penindasan kelas, kita menemukan penindasan satu bangsa di atas yang lain, penindasan rasial, dan penindasan terhadap perempuan. Para kaum ini terbentuk dari paham yang berdasarkan pada pandangan-pandangan Karl Marx, dimana Marx menyusun sebuah teori besar yang berkaitan dengan sistem ekonomi, sistem sosial, dan sistem politik yang mana Marx lebih banyak menyinggung tentang masalah kapitalisme perkembangannya dan tentu saja praktek-prakteknya.

Jadi, sebenarnya menurut saya. Budaya Patriarki adalah sebuah pola ‘sebab-akibat’ dari perbedaan kelas yang menurut saya inilah yang sedang menimpa kebanyakan perempuan ditengah lingkup masyarakat:

  1. Pola pemikiran superior dan inferior dari perbedaan biologi yang mana sebenarnya ini juga bagian dari perbedaan kelas.
  2. Bangsa atau rasial. Kalau pola penindasan secara bangsa atau rasial ini saya lebih mengarah pada spesifikasi secara suku. Meskipun sebenarnya bahan cakupannya cukup luas dan rumit. Oleh karena itu saya hanya mengambilnya secara suku atau adat istiadat. Dimana dengan mengatasnamakan adat istiadat beberapa orang menunjukan perilaku ketidak adilan terhadap perempuan.
  3. Kapitalisme dan fundamentalisme yang sebenarnya mau saya bahas di opini berikutnya hanya saja sepertinya penindasan berkedok Patriarki ini tak dapat terlepas dari kedua hal ini juga.

“Terus apa hubungannya dengan Perempuan Papua?”

Baiklah akan kita bahas dari panjang dan lebar bahasan saya yang mungkin agak ngelantur juga diatas tentang apa hubungannya dengan perempuan papua.

Perempuan Papua, adalah contoh paling besar dari penindasan ini. Penindasan secara patriarki yang didalamnya ada masalah Kapitalisme, Perbedaan Kelas, dan Suku atau adat istiadat (mungkin agama juga). Iya saya menyebutkan agama juga karena secara tidak langsung ada beberapa hal yang menyebabkan banyak pertanyaan yang muncul misalnya kenapa biarawati harus perempuan? Tapi saya tidak mau membahas itu karena semua topik yang berhubungan dengan SAKRAL merupakan keyakinan masing-masing, (tapi saya tolong dijawab yah biar tahu juga haha) hal yang timbul karena kerelaan hatimu untuk meyakini bukan karena dipaksa.

Perempuan Papua sejak dilahirkan sudah pasti akan menjadi bagian dari adat istiadat yang ribetnya minta ampun dengan melaksanakan segala jenis aturan dari sejak lahir hingga menagalami semua ketidak adilan yang dirasakan. Ketidak adilan yang bukan hanya datang dari lingkungan sekitarnya, keluarga tapi juga dari diri sendiri yang mana biasanya mereka menyebutnya sebagai takdir Tuhan. Jika terlahir sebagai seorang perempuan inilah jalannya. Banyak sekali yang menentang budaya patriarki karena tidak sesuai dengan hak – hak perempuan yang saat ini menuju pada pemikiran modernisasi.

Budaya Patriarki mampu membentuk masalah – masalah yang sebenarnya secara tidak disadari tetap dilakukan oleh para Perempuan Papua dikawal oleh pelaku penindasan ini. Masalah yang tengah dihadapi oleh Perempuan Papua saat ini menurut saya adalah :

  1. Poligami

Baiklah, ada sebagian pemahaman bahwa satu pria dapat memiliki isteri lebih dari satu bahkan jika dia memiliki isteri dari satu akan menunjukan bahwa dia adalah seorang pria dengan kelas tertentu.

  1. Menjadi sebuah Komoditas

Ini yang paling menyedihkan bagi saya, yakni menjadi sebuah komoditas. Tanpa memikirkan bahwa sebenarnya ditangan seorang perempuan itu akan tumbuh sebuah kehidupan, tak dapat disangkali bahwa mereka juga dijadikan sebuah komoditas yang seperti benda diperjual belikan. Hal ini ada pada sisi kehidupan pernikahan yakni adanya pemikiran dari pembayaran mahar atau mas kawin. Misalnya “ah, sa su bayar ko. Jadi sa mo bikin apa ke ko itu sa pu hak”. Padahal sebenarnya mahar atau mas kawin adalah sebuah bentuk kegiatan yang dilakukan untuk mempererat hubungan keluarga yang akan menjadi satu keluarga utuh karena dua orang yang akan dipersatukan. Tapi, pada masyarakat saat ini pembayaran mahar dilakukan agar perempuan menjadi hak utuh atau penuh dari sang pembayar mahar atau mas kawin. Sebab, biasanya pihak perempuan tidak bisa berbuat apapun ketika mahar atau mas kawin telah dibayarkan jika terjadi sesuatu kepada anak perempuan mereka misalnya kekerasan dalam rumah tangga secara fisik maupun finansial ataupun secara batin.  Apalagi jika pembayaran itu dalam jumlah yang besar atau sangat berharga. Tapi, mungkin saja ini mulai terkikis satu per satu karena pola pemikiran masyarakat Papua yang mulai menerima konsep modernisasi.

  1. Pelayan

Dan inilah pelayan abadi menurut kodrat dari perempuan Papua, Pelayan didapur dan diatas ranjang. Pelayan yang siap sedia melayani kebutuhan anak – anak dan suami padahal kebutuhan anak – anak adalah tanggung jawab bersama laki – laki dan perempuan. Melayani kebutuhan suami bahkan bukan hanya makan tapi juga kebutuhan biologisnya. Luar biasa perempuan yang bekerja dirumah memiliki waktu 24 jam siap sigap untuk patroli. Tapi, itu adalah perempuan pada umumnya, Perempuan Papua memiliki jam kerja selama 24 jam. Bagaimana tidak, mengurus anak dan suami dan pagi dan sore hari terus berikutnya pergi ke kebun untuk menanam segala kebutuhan keluarga, terus harus bergerak menuju pasar untuk mencari tambahan uang menjual hasil bumi yang mereka tanam.

  1. Status yang adakalanya bisa tidak diakui

Untuk pembaca yang baik hati, saya mau menyampaikan sesuatu tentang status yang tidak diakui ini. Jadi dalam adat orang Papua, perempuan akan menjadi sebuah keberkahan jika dia melahirkan anak laki – laki bagi suaminya. Dia akan bangga bahwa seorang penerus, seorang ahli waris telah lahir dari kandungannya. Tapi, tidak terjadi demikian kepada mereka yang melahirkan anak perempuan bagi suaminya. Padahal anak perempuan bukanlah sebuah kesalahan, saya sendiri masih bingung dengan hal ini, anak perempuan sebenarnya akan tidak sama sekali diberikan hak atau tidak punya hak dalam adat keluarganya tapi, ketika mengarah pada pembayaran mahar atau mas kawin. Keluarga akan dengan sangat antusias untuk meminta harga lebih, seakan – akan anak perempuan itu sangat istimewa padahal pada kenyataannya yang akan memiliki mahar itu adalah mereka yang tidak memberikan hak untuk sang anak perempuan. Adanya sebuah ketidak adilan yang saling berkaitan disini, bahkan ibu sang anak perempuan ini juga bisa rela suaminya melakukan poligami dengan alasan isterinya tidak bisa memberikannya anak laki – laki. Mirisnya kebanyakan dari Perempuan Papua menganggap ini semua adalah takdir dari Tuhan jadi yah dijalani. Dan mohon maaf penindasan seperti ini bukan hanya dilakukan oleh pihak laki – laki bahkan pihak perempuan pun melakukan hal yang sama.

  1. Stigma-stigma yang terbentuk

Yang lebih menyebalkan lagi adalah masalah sebuah stigma yang mengatakan bahwa pernikahan antara laki – laki dan perempuan itu dilakukan jika perempuan sudah mengandung anak dari laki – laki, saya tidak mengada-ada ini adalah cerita dari beberapa Perempuan Papua yang saya kenal. Ini adalah sebuah pelecehan dan penghinaan menurut saya bagi seorang Perempuan Papua. Karena menurut saya laki – laki seperti itu hanya mendahulukan nafsu. Awalan yang baik adalah dengan meminta secara formal dan baik – baik kepada orang tua perempuan. Mendingan sih kalo setelah perbuatan nafsu itu laki – laki ini bertanggung jawab nah jika tidak akan menjadi sebuah beban pikiran besar bagi perempuan itu. Saya lebih kasihan dan sedih lagi bahwa stigma ini secara terang-terangan menyebar dan menyerang kaum perempuan muda pada usia sekolah yang secara biologinya dia belum siap untuk mengandung dan melahirkan. Bahkan sepertinya berhubungan badan pun seorang perempuan dengan usia ini sebenarnya belum siap.

Kelima hal diatas akhirnya mengingatkan saya pada kesenjangan sosial yang diterima oleh para Perempuan Papua, yakni mereka yang dibentuk dari rumah karena pola pikir dan tingkat pendidikan dari orang tua selaku pendidik dirumah yang rendah sehingga yang diajarkan kepada anaknya adalah sebuah ajaran yang dilakukan secara turun temurun. Atau pendidikan anak yang rendah sehingga mempengaruhi pola pikir sang anak, dengan demikian anak tersebut tidak memikirkan langkah kedepannya.

Perempuan Papua tengah hidup dalam penindasan akibat patriarki sehingga kebanyakan dari mereka tertindas secara fisik dan batin. Tapi, bukan hanya patriarki yang menjadi pola penindasan yang terjadi pada Perempuan Papua ternyata kapitalisme serta fundamentalisme pun ikut mengambil bagian didalamnya.

Maaf, mungkin teman-teman jadinya penasaran dengan apa yang saya sebutkan atau bahkan tidak mengerti. Tapi, saya memohon maaf inilah yang terjadi karena apa yang saya tuliskan merupakan sebuah dampak dari sistem yang terbentuk dari patriarki, kapitalisme dan fundamentalisme.

Saya berharap dengan membaca tulisan ini setiap orang sadar bahwa sebenarnya seorang perempuan yang hidup dalam budaya Patriarki yang diterapkan ini adalah sesuatu yang perlu dikaji ulang. Bukan berarti saya menentang semua seluk beluk budaya dan adat istiadat kami. Saya sadar bahwa sebenarnya adat istiadat dan budaya kami harus dijunjung tinggi karena didalamnya masih ada yang mengedepankan nilai-nilai atau norma-norma positif, hanya saja sebagai seorang manusia budaya ini telah berakibat sangat besar bagi keberlangsungan hidup seorang jiwa anak Papua. Sebab, seperti sebelumnya yang saya katakan pada tulisan pertama saya Perempuan adalah Pembentuk Kehidupan. Maka jika dia tidak mendapatkan kesejahteraan, bagaimana mungkin seorang Perempuan Papua bisa melahirkan generasi hebat. Ingatlah, sejahtera itu bukan berarti kaya, punya uang belanja setiap bulannya. Tapi sejahtera adalah terlepas dari sebuah kata ‘bodoh’, sebuah kata ‘miskin’ dan sebuah kata ‘komoditas’ yang dimana semua ini telah terbentuk diawal jaman oleh para pendahulu. Perempuan Papua punya hak untuk hidup, Perempuan Papua punya hak untuk sejahtera.

Terlahir sebagai seorang perempuan bagi saya memang adalah sebuah takdir, tapi untuk mengikuti segala jenis penindasan berkedok aturan bukanlah sebuah takdir bagi saya.

Terima Kasih, Tuhan Berkati 🙂

Nourish Christine Griapon

 

Daftar pustaka :

  1. Marisa Rueda, dkk. Feminisme Untuk Pemula.
  2. http://www.militanindonesia.org/teori-4/gerakan-perempuan/8512-revolusi-dan-perempuan.html
  3. https://id.wikipedia.org/wiki/Marxisme
  4. http://www.jurnalperempuan.org/blog-feminis-muda/tubuh-perempuan-yang-dipatuhkan

Gak Penting (ii)

Dulu, sewaktu saya masih kecil usia sekitaran 7 hingga 10 tahun saya selalu berpendapat bahwa sepertinya seru ya jika kita menjadi orang dewasa. Pada waktu itu saya melihat orang-orang dengan ukuran usia. Banyak hal yang bisa dilakukan, tapi ternyata setelah bertambah usia saya benar-benar menyadari bahwa kedewasaan adalah sebuah pola kepribadian yang terbentuk karena wawasan yang luas serta pengalaman jadi usia bukanlah sebuah patokan kedewasaan seseorang.

Yah, saya yakin sebenarnya semua orang berusaha menuju kedewasaannya dengan caranya masing-masing. Ada yang dewasa karena pengalaman, kalau yang ini saya berani mengatakan bahwa usia dan kerja kerasnya mempengaruhi pola pikirnya sehingga membentuk pribadi yang seperti demikian. Ada juga yang dewasa karena belajar kalau yang ini usia bukanlah sebuah penentu, sebab bisa saja seseorang yang lebih muda akan lebih dewasa dari yang lebih tua umur dari orang muda tersebut.

Saya menyadari bahwa didunia ini, se-humble, sekocak, se-friendly, sebaik apapun seorang manusia dia pasti memiliki banyak ‘secret admire’ saya lebih senang menyebut mereka demikian daripada kata haters yah kayak yang dimedia sosial instagram, twitter, facebook dsb. Sebab bagi saya untuk seorang atau lebih yang punya satu obsesi tentangmu sehingga dia tahu setiap gerak gerikmu sama saja kan dengan fans kamu, bedanya mereka mencibir semua yang kamu lakukan mungkin bahkan jika kamu sedang ke kamar mandi saja dicibir.

Tapi memang mungkin bagi kita yang sedang menghadapi kaum ‘secret admire’ ini pun, tak pernah sadar dan peka terhadap apa yang mereka inginkan. Misalnya perilaku easy going yang kita punya terkadang membuat mereka merasa tersaingi, maklum saya juga pernah seperti demikan minder dan malu serta merasa diabaikan dalam sebuah obrolan bahkan komunitas. Tapi, buat saya itu adalah cara tersendiri buat belajar percaya diri. Sebab kalau pada akhirnya hanya mencibir orang tidak akan membuat saya mengenal banyak orang. Tapi sih balik lagi yah, kamu akan punya banyak sekali pengetahuan jika kamu mengenal dirimu sendiri. Percaya diri itu penting, sehingga saya selalu bisa membuat orang mau ngobrol dengan saya. Padahal saya dulu termasuk seorang pemalu (trust me that’s true), oh thanks God. You gave me a chance to meet some people, they are great people and they help me.

Jadi menurut saya, kalau memang anda merasa tersaingi carilah dimana kekuatan kamu. Belajarlah percaya diri disana dan jangan lupa pembawaan diri yang positif. Yah saya sedang belajar kesana juga sih, emang tidak mudah untuk terus membawa aura positif. Contohnya cap ‘pembawa acara infotaiment’ itu sudah menempel pada saya dikalangan kampus hahahaha, padahal mah itu semua tuh adalah sebuah fakta yang telah terjadi. Sekarang saya lebih banyak diam sih jika mendengar sesuatu atau melihat atau bahkan memilih pergi dan berlalu dari pembicaraan itu. Tapi tetap saja cap itu tidak hilang-hilang juga, sebab seorang penjahat yang mengakui kesalahannya dan bertobat serta menerima hukumannya tetap saja akan disebut penjahat. Bagi saya that’s okey, that’s my ‘Jalan Ninja’ hahaha.

Jadi, ayok tetap belajar menjadi positif sebab yang namanya belajar itu sesuatu yang dilakukan sampai otak kita mati fungsinya.

Terima Kasih, Have a bless Tuesday

Nourish Christine Griapon

Antara Bunga yang Hilang (i)

Mirna oh Mirna,

Tulisan pertama dengan tema diatas ini tidak saya peruntukan untuk membenci mu Mirna dan saya meminta maaf atas ketidakadilan yang kamu rasakan, saya hanya menyesalkan kejadian ini. Tulisan ini saya peruntukan untuk setiap mereka yang memakai lambang Dewi Justitia.

Mirna,
Dikau adalah Bunga yang hilang lantaran sakit hati.
Mirna,
Engkau bunga yang hilang diantara berlian.
Mirna,
Engkau bunga yang hilang dan rasanya semua orang berteriak untuk meminta menghukum dia yang telah memetikmu.
Mirna,
Aku meminta maaf untuk ketidakadilan yang kau rasa karena pemetik hidupmu.
Mirna,
Kiranya engkau tetap menjadi Edelwis dihati mereka yang kehilangan. 

Mirna kamu adalah bunga yang telah dipetik entah oleh siapa, saya sedikit menyesalkan kejadian ini dan menurut saya ini bikin saya gemas dengan berita kamu atau bahasa lebih alaynya anak sekarang itu ‘gemes banget’. Itu ekspresi saya  ah pokoknya seperti itu, bagi yang membaca tulisan ini tahu istilah gemas apaan kecuali mereka pasif berbahasa Indonesia. Atau biar lebih jelas saya sengaja mencarinya diKamus Besar Bahasa Indonesia J.S Badudu.

gemas/ge·mas/ a 1 sangat jengkel (marah) dalam hati: saya sangat — pada anak itu karena selalu mengotori lantai; 2 sangat suka (cinta) bercampur jengkel; jengkel-jengkel (cinta):

Tapi kalau ekspresi saya kayaknya lebih yang nomor satu yah, jengkel dalam hati. Bagaimana tidak, semua berita yang ditampilkan oleh media masa melalui televisi dan media sosial adalah pembahasan mengenai Mirna dan kasusnya. Hampir 24/7 semua menayangkan tentang berita mu. Tapi tak sedikitpun dari mereka yang menayangkan tentang pelanggaran HAM di Papua. Ah terlepas dari sana bukan hanya pelanggaran HAM saya mau membahas tentang bunga yang lain, masalah pelanggaran HAM akan kita bangun opininya ditulisan saya berikutnya.

Seakan-akan masyarakat generasi ini lupa bahwa ada cerita tentang terbunuhnya Bunga yang lain. Dengan meminjam sepenggal dari sebuah dongeng yang dituliskan oleh sang legenda hidup sastrawan Sapardi Djoko Damono, saya akan menuliskan tentang sepenggal juga cerita tentang dia. Bunga yang hilang.

                   DONGENG MARSINAH

Marsinah buruh pabrik arloji, mengurus presisi:
merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
waktu memang tak pernah kompromi,
ia sangat cermat dan pasti.

Marsinah itu arloji sejati, tak lelah berdetak
memintal kefanaan yang abadi:
“kami ini tak banyak kehendak,
sekedar hidup layak, sebutir nasi.”

Mirna, nama perempuan yang sama dengan mu itu adalah Marsinah. Kamu harus tahu bahwa dia dibunuh karena meminta kenaikan upah sebesar Rp 550.00 pada tahun 1993. Dia dibunuh dengan cara yang keji, bahkan dengan kata binatang pun tak bisa menggambarkan betapa jahatnya manusia yang telah memetik hidupnya.

Saya membaca artikel tentang perempuan ini, menonton kisahnya dari dalam sebuah acara yang memang dikemas secara khusus untuk #MenolakLupa dan mencari tahu tentang dia lebih banyak lagi. Kasus perempuan ini adalah kasus X-File yakni kasus yang tak pernah terpecahkan hingga saat ini. Ah dia memang bunga yang tak akan dilupakan dan menjadi pengingat bahwa di negara yang dicintai rakyatnya ini hidup para manusia jahat yang bahkan menyebut mereka sebagai binatang pun menurut saya adalah ungkapan yang masih terlalu baik.

Marsinah adalah seorang buruh sebuah pabrik perakit arloji berusia 24 tahun ketika meninggal. Dia dikenal sebagai seorang aktivis buruh di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Kamu harus tahu bahwa dokter yang waktu itu menangani jasadnya adalah dokter dari RSUD Ngajuk dan dibantu oleh Tim Forensik dari RS Soetomo Surabaya, mereka mengatakan bahwa Marsinah itu meninggal karena adanya pendarahan diperutnya. Padahal menurut dr. A. M Idries ahli Forensik yang akhirnya dimintai tolong oleh pengacara Boss gadis ini yang secara sengaja dikambing hitamkan atas pembunuhan ini, pendarahan hanyalah mekanisme kematian tapi penyebabnya belum pasti. Akhirnya makamnya dibongkar lagi dan kembali diperiksa, ternyata kesimpulannya adalah adanya benda asing dengan ukuran diameter sebesar 3 cm yang secara sengaja dimasukan ke dalam kemaluan gadis ini dan disodok-sodok, setelah itu benda ini mampu mematahkan sejumlah tulang kemaluan sampai berkeping-keping, menyebar ke tulang usus kanan dan terakhir tulang panggulnya membentuk senuah sudut. Kamu pasti tahu akhirnya benda itu apa, sebab hanya ada satu dengan ukuran sekecil itu yang bisa masuk dan mematahkan semua tulangnya. Senjata api, ya peluru itu telah masuk kedalam rahim seorang perempuan dan membunuhnya.

Bukankah pantas saya sebut lebih rendah daripada Binatang? Tidak sampai disitu, sebab pelakunya ternyata sampai sekarang tidak pernah diketahui. Ah iya, kamu pasti mengatakan bahwa sudah tertangkap. Tapi bukan mereka, mereka adalah 9 orang korban penjebakan agar sang pelaku tetap bisa berkeliaran dialam bebas dan Boss Marsinahlah yang akan menanggung beban pembunuhan itu. Tentu saja bukan mereka, pada tahun itu apakah seorang sipil mempunyai ijin memiliki, menyimpan atau menggunakan senjata api? Iya, jangan salah lihatlah yang terjadi Marsinah masih ada, Marsinah masih menderita, Marsinah masih dihancurkan bukan hanya rahimnya tapi juga lutut, kaki, tangan, badan, jantung, hati dan otaknya.

Marsinah adalah luka bagi setiap perempuan, dimana setiap perempuan itu memiliki sebuah berkat untuk melahirkan seorang kehidupan dari dalam rahimnya. Tapi ternyata diperlakukan seperti demikian.

Tapi, saya yakin kamu pasti pernah mendengar tentang kisahnya. Dia adalah bunga yang hidup dan kemudian dengan sengaja dipetik hidupnya pada tahun 1993. Dia adalah edelwis yang tak pernah ditemukan, dia adalah masa lalu dan luka semua perempuan.

Mirna, perempuan itu bernama Marsinah dia buruh Pabrik arloji. Dia dibunuh pada tahun 1993 karena Rp 550.00 mungkin kalian terlalu berbeda sebab Jesica sahabatmu yang tertuduh itu bukanlah seseorang yang sangat penting untuk disembunyikan oleh negara ini atau mungkin saja karena kalian terlahir pada jaman dan kalangan yang berbeda. Marsinah hanyalah seorang buruh sedangkan kau adalah seorang putri raja.

Mirna sekali lagi saya tidak membenci mu dan saya minta maaf atas ketidakadilan yang kamu rasakan, saya hanya menyesal.

Salam, Tuhan Berkati

Nourish Christine Griapon

Perempuan (dan) Papua (i)

Tanpa merendahkan sedikitpun derajat setiap Perempuan Papua dimanapun berada. Tulisan ini adalah awal dari sebuah perkenalan tentang bagaimana hidup para Perempuan Papua yang saya lihat dan rasakan, jika ternyata saya salah atau malah tidak dibenarkan tolong saya dikritisi karena menurut saya opini adalah sesuatu yang dibangun karena melihat, membaca dan mendengar serta merasakannya. Tulisan ini juga adalah opini awal dan belum masuk kepada masalah utama. Tulisan ini juga saya dedikasikan kepada semua Perempuan  Papua yang selalu berani dan hebat.

“Perempuan  Papua itu siapa?”

Dalam sebuah perbincangan saya mendengar secara sayup pertanyaan yang dilontarkan oleh beberapa orang di sebuah sudut Perpustakaan kampus saya. Jelas saja terdengar obrolan itu, dimana Perpustakaan adalah tempat yang selalu dijaga ketertibannya. Sebenarnya pertanyaaan seperti itu sudah sering saya dengar, tentang  perempuan  yang hitam kulit dan keriting rambutnya, jika perempuan  ini berada diwilayah pemerintahan Indonesia atau dia sedang berbicara menggunakan bahasa Indonesia disertai dengan dialek yang khas.

Yaps, dengan bentukan fisik kami yang berbeda dengan sebagian besar warga Negara Republik Indonesia ini, membuat kami sangat terkenal. Saya menyebutnya terkenal sebab tanpa disebutkan dalam sebuah perkenalan singkat dengan berbagai macam orang, mereka pasti sadar bahwa kami orang Papua. Sama halnya jika seorang warga American – Africa memperkenalkan diri, orang sekitar akan mengenal mereka dengan ‘Black People’. Sekali lagi, ini bukanlah tulisan untuk menyatakan atau memperjelas tentang isu rasis yang sekarang kian hari kian panjang dan memanas karena adanya oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Secara garis keras saya menentang isu rasis juga, tapi kembali lagi disini saya tidak akan menuliskan tentang hal itu.

Sekalipun terlahir sebagai perempuan  saya merupakan salah satu pecinta, pengagum ciptaan Tuhan yang luar biasa ini. Saya selalu beranggapan bahwa perempuan itu ciptaan paling murni dibanding dengan lainnya. Dengan mengutip lirik lagu yang diciptakan oleh sang legenda Ismail Marzuki

                        SABDA ALAM

            Diciptakan Alam Pria dan Wanita

            Dua Makhluk dalam Asuhan Dewata

            Ditakdirkan bahwa Pria Berkuasa

            Adapun Wanita Lemah Lembut Manja

            Wanita dijajah Pria sejak dulu

            Dijadikan Perhiasan Sangkar Madu

            Namun Adakala Pria tak Berdaya

            Tekuk Lutut disudut Kerling Wanita

Saya ingin memperlihatkan realita kehidupan seorang perempuan pada umumnya dan kebanyakkan, sekalipun kita hidup dijaman yang serba modern dengan smartphone, laptop dan sebagainya. Siapa sangka perempuan mempunyai pesona yang bisa menjadikannya sebuah komoditas dan juga disaat yang sama perempuan juga bisa menjadi pesona yang dapat berkuasa atas segalanya, bahkan pesona seorang wanita itu bukan hanya terlihat dari bentuk fisiknya. Tidak peduli mau secantik atau seburuk rupa apapun bentuk fisik sang perempuan itu sendiri, karena bagi sebagian orang dia akan tetap mempesona sebab pesona paling penting dari perempuan bagi mereka adalah vagina. Ini sangat menyedihkan bahkan menyayat hati saya sebagai seorang perempuan. Tapi, sebagai seorang Perempuan saya akan meneriakan bahwa kami bukan hanya masalah vagina, seorang Perempuan  diciptakan dengan sangat murni untuk menolong. Perempuan tercipta dari tulang dan daging yang diambil dari laki-laki, dibalik sikap lembut, lemah dan manja yang sering diperlihatkan sebagian besar Perempuan, mereka adalah pembentuk kehidupan. Jika sebagai orang beriman kita percaya bahwa Dia adalah pemberi kehidupan maka, Perempuan adalah pembentuknya. Demikian juga dengan Para Perempuan  Papua.

Perempuan  Papua adalah pesona tersendiri dari Papua. Jika banyak orang bilang Papua itu surga kecil yang jatuh ke bumi mungkin merekalah para malaikatnya. Pernyataan tadi akan dianggap lebay sih atau kalau bahasa Indonesianya itu Majas Hiperbola, sesuatu yang dilebih-lebihkan. Tapi, disini saya mau menuliskan bahwa bagi saya Perempuan  Papua itu memang adalah malaikat yang tidak bersayap. Oh jelas saja, karena dengan segala ketidakadilan yang diterimanya dari sebuah kebiasaan yang mengatas namakan adat istiadat Perempuan  Papua tetap hidup dan terus loyal terhadap kebiasaan yang mengatas namakan adat istiadat tersebut.

Masyarakat Papua adalah golongan besar orang-orang yang tetap berpegang teguh dengan adat istiadat, bagi kami orang Papua Adat adalah nomor satu, lalu Agama dan terakhir konstitusi Pemerintahan satu segitiga yang tidak bisa terlepas dari masyarakat Papua dimana sejak dia dilahirkan dia akan hidup dengan hal ini, oleh sebab itu seringlah kami Masyarakat Papua disebut sebagai Masyarakat Adat. Sebagai contoh pembayaran mas kawin atau acara nikah adat, penjemputan orang penting, berburu, acara keagamaan dan masih banyak lagi. Hal ini kebanyakan dipengaruhi oleh tradisi yang secara turun temurun sehingga dianggap sebagai adat. Tapi, tidak dapat dipungkiri juga bahwa hal ini merupakan adat dari masyarakat itu sendiri dimana hal ini menunjukan identitas mereka. Para Perempuan  Papua pun tidak pernah terlepas dari hal ini, sedangkan kita tahu bahwa kebanyakan kebiasaan yang secara turun temurun yang disebut sebagai adat ini juga tidak berlaku adil terhadap hak Para Perempuan  Papua.

Kemarin (Selasa, 31 Agustus 2016) saya baru saja hadir dalam sebuah diskusi dengan tema “Saatnya Perempuan  Papua Bangkit dan Bersuara” dimana dalam diskusi ini diawali dengan pemutaran sebuah film dokumenter ‘Tanah Mama’ yang disutradarai oleh Asrida Elisabeth seorang wanita berdarah Flores dengan hati seorang Perempuan  Papua. Disana dia menceritakan tentang seorang Mama yang bernama Mama Halosina dengan perjuangan gigihnya untuk menghidupi keempat orang anaknya yang telah ditinggalkan oleh suaminya Poligami dan pergi ke kota dengan sebuah alasan tertentu.

Mama Halosina pindah dari rumah suaminya, ke rumah saudara perempuannya. Kalau di tempat lain alasan terbesar para perempuan  ingin pindah karena tidak akur sama orang rumah misalnya mertua. Mama Halosina adalah seorang dukun beranak yang menangani perempuan melahirkan dikampungnya, tapi itu tidak setiap hari karena di kampung-kampung seperti itu jarang sekali perempuan yang melahirkan setiap hari. Oleh sebab itu Mama Halosina tidak memiliki persediaan untuk makan sehari-hari dia dan keempat anaknya. Sehingga suatu hari Mama Halosina dituduh mencuri ubi dikebun milik adik Perempuan  suaminya, adik iparnya Halosina. Hanya karena seharian anak-anaknya belum makan. Mama Halosina didenda dan diharuskan membayarkan sejumlah uang kepada pemilik kebun yang tidak lain adalah adik iparnya sendiri. Dalam budaya mereka, laki-laki atau suamilah yang harus membukakan kebun untuk perempuan  dan perempuan  akan menunjukan segalanya setelah dibukakan kebun. Tapi, ternyata hal ini tidak terjadi pada Mama Halosina, suaminya yang bernama Hosea tidak membukakan kebun baginya sedang anaknya butuh makan, terpaksa dengan berpikiran bahwa “semua akan baik-baik saja jika saya mengambil sedikit ubi dari kebun adik Perempuan  suami saya”. Mama Halosina dan anak-anaknya seakan-akan diperlakukan tidak adil oleh sang suami, dari pembukaan lahan kebun, makan anak-anak, sekolah anak-anak sampai anaknya yang keempat pun tak diakui oleh bapaknya. Sedang isteri yang kedua dan anak-anak dari Hosea mendapatkan segalanya, mungkin karena daun muda.

Ketidakadilan inilah yang membuat Perempuan  Papua tetap dalam garis tertindas. Jelas saja, sebagian besar kebiasaan Poligami sang lelaki yang tidak pernah berhenti. Untunglah jika sang lelaki bertanggung jawab sepenuhnya, jika tidak mereka akan tetap berada dalam rasa ketidakadilan mungkin bukan hanya pihak wanita pertama tapi juga yang kedua. Ketidakadilan akan kesejahteraan yang diberlakukan oleh suaminya, ketidakadilan akan pendidikan serta kesehatan yang diberikan oleh lingkup sekitarnya. Ketidakadilan karena penyetaraan yang diberlakukan oleh sebuah sistem bahwa jika kamu tak punya uang berarti miskin. Sounds like Capitalism, yeah I know that dan saya juga sebagai salah satu dari budak kapitalisme ini. Ketidakadilan ini membuat perempuan hanyalah “dipakai sebagai pelayan”. Bukan berarti saya melawan kodrat seorang perempuan yang memang tugasnya adalah melayani suami dan anak-anaknya, TIDAK saya tidak berkata demikian. Tapi masalah kesejahteraan adalah hak milik bersama tanpa memandang gender jika laki-laki bisa sekolah sampai profesor harusnya perempuan juga bisa, jika laki-laki bisa mencari uang seharusnya perempuan juga bisa. Tapi, pada realitanya perempuan hanyalah menjadi objek tersendiri bagi kepentingan beberapa orang dan ini menjadi sebuah kebiasaan yang secara turun terumurun dalam sebuah lingkupnya bahkan bisa saja dianggap sebagai adat oleh lingkungannya. Mengkritisi perlakuan ketidakadilan yang diterima para Perempuan Papua melalui jalan hidupnya, saya selalu beranggapan bahwa mereka mereka adalah pembentuk kehidupan yang selalu diberkati, berusaha melawan ketidakadilan dengan caranya sendiri tapi tidak meninggalkan hatinya yang terbuat dari kasih sayang.

Perempuan Papua bukanlah objek untuk mendapatkan sesuatu apalagi itu terbentuk karena stigma perempuan hanyalah berada didapur, dalam kelemahlembutannya lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua bukanlah pelayan didapur dan diatas ranjang, dalam kegigihannya lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua harus mendapat kesejahteraan yang setara karena mereka akan melahirkan sebuah kehidupan yang luar biasa

Perempuan Papua adalah  seorang pejuang paling kuat untuk bertahan hidup, sebab dari mereka lahirlah sebuah kehidupan yang luar biasa.

Perempuan Papua adalah Malaikat.

Jadi, untuk semua Perempuan Papua jadilah malaikat yang selalu tahu bahwa dirinya berharga. Sebagai Perempuan Papua yang tangguh janganlah mau ditipu dengan rayuan gombal serta tipu daya muslihat yang ditujukan bagi kita. Ingatlah pesona kita lebih dari sebuah kata vagina, kita adalah pembentuk kehidupan. Maka belajarlah, bacalah, lihatlah, rasakan dan berjuang sebab sebuah kehidupan hebat akan lahir dari kita.

Sekali lagi Tulisan ini saya dedikasikan secara khusus bagi setiap Perempuan Papua yang sedang berjuang melawan ketidakadilan yang dia terima untuk tetap memperjuangkan hidupnya.

                                                                                Terima Kasih dan Salam, Tuhan Berkati selalu.

Nourish Christine Griapon